Sabtu, 21 Juli 2012

Buruh Migrant Berserikat, Bersatu Membela Hak BMI




Foto:  Ani Ramdhan




Dompet Dhuafa Hong Kong bekerja sama dengan UNIMIG (Union Migrant Indonesia ) menggelar acara “BMI Bicara Masa Depan”, Minggu 6 Mei 2012 di Tin Hau Art Center – Tin Hau.

Dalam acara tersebut turut menghadirkan narasumber di antaranya, H.M. Martri Agoeng (Angota DPR RI Komisi 9), Muhammad Iqbal (Presiden UNIMIG), Sumiati dari Komunitas Migran Indonesia (KOMI), dan Sringatin dari Indonesian Migrant Worker Union (IMWU).  Selain itu, tampil pula Utami dari GOLPINDO (Gabungan Olah Raga Putri Indonesia), Endang (perwakilan Organisasi Muslim Buruh Migran Indonesia di Hong Kong dari POSMIH), Susie Utomo (Forum Lingkar Pena Hong Kong), Pewarta BMI HK, serta bertugas selaku moderatornya ialah Bustomi.

Setelah sambutan mengawali acara, yang di buka oleh General Manager Dompet Dhuafa Hong Kong (GM DDHK), Ustadz Ahmad Fauzi Qosim , kemudian berlanjut dengan sambutan dari beberapa narasumber.

Memasuki sesi tanya jawab, para audience  sangat bersemangat untuk tidak melewatkan kesempatan ini. Beberapa pertanyaan tentang KTKLN, hak libur, gaji underpay  serta perlindungan hak-hak selama pra pemberangkatan, masa kerja dan setelah pulang ke Indonesia mengalir deras. Hal ini membuktikan bahwa selama ini  masih banyak permasalahan pelik yang menjadi bagian dari BMI. Baik itu yang sudah tercover atau belum.

“Kami mengharap, jika nantinya DPR akan membuka komunikasi dua arah, di antara BMI langsung dengan Pemerintah. Di mana hal ini untuk menghindari manipulasi berita yang terjadi di lapangan.” Harapan Susie Utomo kepada H.M Martri Agoeng, selaku perumus RUU Perubahan terhadap UU 39/2004 tentang Perlindungan dan Penempatan TKI di Luar Negeri.

Dalam kesempatan yang sama, diresmikan pelantikan pengurus UNIMIG Indonesia-Hong Kong oleh Presiden UNIMIG.   Di mana, UNIMIG sendiri sudah mempunyai perwakilan di beberapa Negara. Malaysia, Singapura, Taiwan dan Arab Saudi. Terpilih sebagai ketuanya ialah Pujiatun (Anggota Advokasi LPAM DDHK).  Dengan berserikat, diharapkan wawasan BMI semakin luas, sehingga dapat meminimalisasi setiap permasalahan yang mungkin terjadi.


Dimuat Majalah Iqro Hong Kong Edisi Juni 2012. ***AR***

Jumat, 20 Juli 2012

Mau dimanapun Tempatnya, Ramadhan Tetap Ada di Hati Kita.



Foto: Karya  Sinna Hermanto


Funying Cai Kai. Selamat datang Puasa. Welcome Ramadhan.


Memasuki akhir  minggu ke-tiga  di bulan Juli ini adalah hari yang sangat istimewa. Bagi saya sendiri, ataupun mereka yang memang mempunyai perasaan yang sama seperti yang saya rasakan.  Hari yang  mengawali setiap perubahan pada setiap insan. Untuk lebih baik, untuk lebih bisa memanfaatkan sedetik waktu yang bergulir agar senantiasa menjadikannya sebagai tambahan ibadah.


Informasi dari minggu-minggu lalu yang saya dapatkan , ialah kebingungan yang penuh praduga. Perbedaan hari awal tentang puasa ramadhan memang tak hanya terjadi di tanah air saja. Menurut informasi yang tersebar, KJRI Hong Kong memutuskan untuk mengawali shalat taraweh pada 19 Juli, atau malam Jumat. Jadi puasa ramadhan akan dimulai pada hari Jumat. Tetapi informasi yang lain, yakni Islamic Union of Hong Kong, akan mengawali puasa ramadhan pada 21 Juli 2012, yakni hari Sabtu.

Memanfaatkan fasilitas komunikasi facebook, akhirnya saya memperoleh kepastian berikutnya tentang keputusan hari pertama kapan puasa ramadhan akan dimulai untuk negara Hong Kong.  Informasi terbaru dari Islamic Union of Hong Kong, hasil sidang Isbath atau ijma' ulama Hong kong pukul 20.00 (pada hari kamis) ,sesuai hisab dan ru'yatul hilal memutuskan awal ramadhan di Hong Kong jatuh sabtu, 21 Juli 2012.  Jadi, awal ramadhan ini sama dengan keputusan Pemerintah Indonesia yang menetapkan masuknya bulan Ramadhan 1433 Hijriah adalah pada hari Sabtu.


Ah, alhamdulillah lega rasanya mendengar kabar yang mencerahkan ini.

Oh ya, mau narsis sedikit di lapak ini ya. Hehe. Tahun ini adalah tahun ke-tujuh saya menjalankan ibadah puasa di Hong Kong. Perbedaan yang sangat mencolok tentunya, sangat terasa jika kita mengambil perbandingan kondisi dengan pelaksanaan puasa di tanah air. Tetapi, menurut saya sendiri, perbedaan kondisi tersebut bukanlah sebuah hal yang menjadi beban. Justeru sebaliknya, kita berlakukan saja kondisi ini sama layaknya ketika kita di tanah air. Bahwa sesungguhnya pelaksanaan ibadah puasa itu bukanlah tergantung dari tempat serta kondisi di mana kita tinggal. Tetapi semua itu ada di sini. Di hati kita. Di kepercayaan dan keimanan kita. Jadi kenapa harus dijadikan beban?


Dan sudah dapat dipastikan, jika pelaksanaan puasa tahun ini akan berlangsung seperti tahun-tahun yang lalu, ataupun seperti enam tahun yang lalu. Summer. Musim panas dengan terik matahari yang terasa menyayat lapisan-lapisan kulit serta dahaga adalah masih sama. Dan juga kondisi kerja yang mungkin juga akan tetap sama. Tak ada toleransi untuk kita yang sedang berpuasa. Setidaknya anggap saja  ini adalah ujian kita. Ujian di mana kita akan belajar untuk berlaku jujur terhadap diri sendiri. Sebenarnya tujuan kita berpuasa itu apa?


Marhabban Ya Ramadhan. Semoga setiap detik lelah yang kita perjuangkan jauh dari keluarga ini akan mendapatkan balasan dari-Nya. Terhitung sebagai ibadah, Insy Allah.


Mohon maaf lahir dan batin untuk semua khilaf-khilaf diri ini. Semoga ramadhan ini dapat melunakkan hati kita. Membawa hikmah dalam setiap langkah yang kita kayuhkan.  Wallahu’allam.



Ani Ramdhan
5.50 PM/ 20.07.2012

Kamis, 19 Juli 2012

Secarik Resah



foto: koleksi pribadi


Januari Minggu pertama. Awal tahun yang mengasyikan. Diibaratkan, kondisiku sekarang ini seperti mendapatkan  durian runtuh. Rejeki yang tidak pernah terkira. Cihuuuuy, ada dua hari berturut-turut untuk melepas kepenatan yang sudah nyembul di pelataran angan. Minggu pagi yang dingin.  Tidak ada alasan untukku bermalas-malasan di atas ranjang. Meskipun tadi malam baru dapat jatah tidur setelah larut tengah malam. Jam setengah tiga. Tubuhku baru mendapatkan hak untuk istirahat, setiap akhir pekannya.


Kebiasaan majikanku memang tidak pernah berubah. Atau mungkin dengan sengaja tidak mau merubahnya. Ah, entahlah. Selalu ada pesta setiap akhir pekan. Mengundang beberapa kawan, kerabat, juga  kolega bisnisnya yang datang dari Beijing.

“Di rumah kami ada banyak orang  loh, cece !” Kalimat itu keluar dari sing sang ketika kami melakukan interview sebelum tanda tangan kontrak kerja baru di Agentku.

“Hoak. Mou man dhai.” Seketika aku mengiyakan ketika majikan lelakiku memberi warning jika bekerja di rumahnya pasti akan terasa  berat.  Siapkah?

Bukannya tanpa alasan aku mengiyakan tawaran itu. Lou Sang. Bapak Agencyku yang sangat ramah,  adalah alasannya sehingga aku berani mengambil tawaran bekerja di rumah majikanku. Referensi yang sangat meyakinkan. Jika memang majikanku itu orangnya baik,  menjadikanku semakin yakin untuk menaruhkan nasib pada selembar kertas hijau itu. Kontrak dua tahunan yang akan menentukan cerita baru apa lagi yang akan terukir. Bismillah.

Ini adalah kontrak kedua selama aku bekerja di Hong Kong. Mengingat kontrak pertama, nasib yang menghampiriku sangat kurang beruntung. Sebenarnya pekerjaanya tidak begitu berat. Hanya merawat satu anak majikan saja.  Tapi, selama dua tahun itu aku sangat tertekan. Kondisi fisikku sangat memprihatinkan. Berat badanku turun drastis akibat lelah batin serta fisik. Bahkan aku sempat tidak menstruasi selama lima bulan berturut-turut karena kondisi di tempat kerjaku  semakin membuat hari-hariku stress berat. Tidak ada hari tanpa makian dari kedua majikanku. Dari subuh ketemu subuh. Sumpah serapah,  serta kata-kata kotor yang sangat menyakitkan menjadi menu tak terelakkan setiap harinya. Kerja apapun selalu dibilang salah dan tidak bersih. Bahkan mereka dengan sengaja memasang beberapa kamera di setiap sudut rumah dengan alasan untuk mengawasi kinerjaku merawat  anak semata wayangnya.


Ya Allah, aku sering menangis tanpa bisa mengeluarkan air mata ketika itu.  Itupun hanya berani kulakukan di kamar mandi saja. Karena mereka tidak pernah bekerja, dan  seharian terus berada di rumah utuk mengawasiku.  Pernah suatu ketika, badai angin topan tingkat delapan menerpa Hong Kong. Dibarengi hujan yang sangat lebat ketika itu. Majikan perempuanku menyuruhku untuk mencuci lantai teras dengan menyikat satu persatu garis pemisah keramiknya.  Kan sekarang lagi hujan, jadi kita bisa mengirit penggunaan airnya. Kilah majikanku. Aku kembali tak bisa menolaknya. Dengan derai air mata, aku melaksanakan perintah majikanku. Basah kuyup tubuhku oleh guyuran air hujan selama kurang lebih dua jam. Dingin tubuhku menggigil oleh hembusan angin topan yang tanpa sungkan, langsung menembus kulitku.

Ini adalah pengalaman pertamaku memulai bekerja di Hong Kong. Tetapi sudah seberat itu ujian yang diberikan padaku. Jangankan untuk sholat. Buku Yassin saja waktu itu disita dengan paksa dan dibuang di tempat sampah. Dan aku hanya bisa terdiam tanpa bisa melawan. Sudah semenjak awal aku dilarang untuk menggunakan HP. Begitu juga untuk sekedar berbincang dengan mbak-mbak yang lain, ketika kami sama-sama mengantar anak ke Sekolah. Aku diawasi dengan super ketat. Sekali lagi aku hanya diam. Termasuk ketika dalam dua tahun itu, aku sama sekali tak pernah mengerti hari libur. Tak pernah tahu apa yang terjadi di luaran sana. Serta kabar apa yang sedang memanas di gedung-gedung tinggi negaraku, Indonesia. Aku sama sekali buta berita. Tak tahu sama sekali tentang Hong Kong. Bahkan, kabar keberadaanku di Hong Kong pun, hanya beberapa kali kukirim ke kampung halaman. Pun setelah aku dapat pertolongan seorang wanita paruh baya, yang rumah majikannya tepat di samping kiri rumah majikanku.  Meskipun terasa sangat berat, alhamdulillah  aku menahan sesak itu sampai dua tahun. Ya Allah, sungguh ini sangat melelahkan.

Menembus kabut putih yang masih tebal.  Mengenakan empat potong pakaian serta sepotong jaket kulit yang dulu kubeli  dengan harga diskon besar-besaran di salah satu toko di  kawasan Jordan.   Aku melenggang. Tapi masih saja hawa dingin itu mampu menembus lapisan kulit tropisku. Bahkan ketika aku berbicara. Nampak keluar sembulan-sembulan asap dari dalam mulutku. Ah, sepertinya Hong Kong akan turun salju. Gumam hatiku ngawur ketika merasakan dingin memang sangat kejam menggilas pertahanan pori-pori kulitku.  

Causeway Bay sepagi ini masih nampak sepi. Jam delapan pagi aku sudah duduk di salah satu bangku cokelat tua yang warnanya sudah memudar.
Mendadak datang tergopoh seseorang dengan dandanan yang rame. Warna rambutnya merah menyala. Bajunya sangat stylist banget. Anak gaul kalau bahasa kerennya.
“Pagi mbak, libur?” Tanyaku mengakrabkan diri.
“Aku baru keluar dari majikan mbak. Nge-break.” Jawabnya dengan nafas tersenggal.
“Ha, kenapa mbak. Ada masalah?” Selidikku iseng penasaran.
“Majikanku cerewet mbak. Nggak dikasih makan. Tiap hari ditungguin terus. Nggak boleh pakai HP. Duh, apalagi lap top ku mbak. Ngangkrak! Nggak bisa chatingan, dong! hehe” Urainya cuek.

Nah lo, aku kaget dengan jawabannya yang semau gue itu. Emang ke Hong Kong mau ngapain  mbak? Mau chatingan? Telfonan? Atau mau dapat uang, tapi nggak usah pakai kerja? Hah, hatiku mendadak protes.

“Koran mbak.” Datang seseorang lagi duduk di bangku sebelahku, sambil menyodorkan Koran berbahasa Indonesia yang biasanya di peroleh secara gratis itu.

Aryati. BMI asal Blitar. Tergeletak koma selama seminggu karena disiksa majikan. Menjadi headline Minggu awal tahun yang menyesakkan. Dadaku berdesir membacanya, sementara seseorang yang duduk di sebelahku lagi sangat bertolak belakang nasibnya dengan Aryati. Hah, bukan maksud hati ingin dia seperti Aryati. Tetapi apakah dia tidak pernah berfikir seandainya nasibnya suatu saat nanti bisa menjadi Aryati, Aryati yang lainnnya? Bagaimana?

Aku lanjutkan membaca tuntas kasus Aryati. Selembar foto seorang wanita yang tengah terkulai di atas ranjang pesakitan itu semakin membuat siapa saja yang membacanya menjatuhkan iba. Lembar ke dua kulanjutkan. Pandangan mataku berhenti pada sebuah rubrik dengan tinta tebal berwarna hitam. Kolom Sastra. Sebuah kutipan dengan huruf miring berwarna biru memikat hatiku.

“Inti hidup itu adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras, doa dan tawakkal. Ikhlaskan semuanya, sehingga tidak ada kepentingan apa-apa selain ibadah. Kalau tidak ada kepentingan, kan seharusnya kita tidak tegang dan kaget.” 
 Ahmad Fuadi, Negeri 5 Menara

Ikhlaskan semuanya, sehingga tidak ada kepentingan apa-apa selain ibadah. Kalimat ini membiusku pelan. Ikhlas? Apakah  selama ini aku sudah ikhlas? Bahkan ketika jatah tidur malamku berkurang, aku selalu menggerutu?



Tulisan ini adalah curhatan dari seseorang teman. 
Dimuat di  Majalah  Iqro Hong Kong Rubrik Curhat edisi Februari 2012.
*Ani Ramdhan

Selasa, 03 April 2012

Ba'da Magrib



Aku berlari dengan senyum buncis yang sumringah. Ya, sebentar lagi.  Kakiku berjalan semakin cepat. Pintu itu sudah dekat. Pintu kayu berwarna cokelat tua, yang masih sama ketika dulu  kutinggalkan. Kuletakkan dua koper  yang kubawa di depan almari kaca besar. Tempat istimewa ketika aku masih belia. 


Poster kecil yang masih sama, kudapati tetap melekat di pojok kiri atas kaca dengan ukuran dua kali lipat tinggi badanku.  Bergambar sosok lelaki dengan alis tebal dan mata yang membulat.  Artis dari Punjab yang ketampanannya selalu membius  siapa saja yang hendak bercermin di depan kaca, sepertiku. Kemudian aku bertanya kepadanya. Hai, kaca. Siapa yang paling cantik di dunia ini? Eh, di depan kaca ini? Hihi, aku selalu tertawa ngikik di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Setidaknya hal ini sempat membuat Ibuku cemburu.


“Ealah ndhuk, tibakne kamu sudah pulang toh!”
“kok gak nyalami aku?”
“Piye kie?”

Seorang wanita tua mengenakan jarik lurik menyapaku. Rambutnya  rata dirayapi uban. Melambai ke arahku.  Tangannya berayun seperti daun yang tertiup angin. Mengisyaratkan seruan  atau mempersilahkan kehadiran. Entahlah, aku tak begitu paham.

Yang aku ingat, kemudian aku semakin mempercepat gerak langkahku. Bukan lagi memburu pintu-pintu itu. Bukan.  Aku ingin segera mendekat dengannya. Wajahnya. Senyumnya, memang tak lagi sama. Ah, tapi itu bukan masalah lagi buatku. Apalagi kebiasaannya yang selalu meludah di depan pintu. Aku sama sekali tak lagi mempermasalahkannya. Ya, setidaknya aku sudah sampai pada usia ini. Kurasa memang tak pantas lagi  untuk aku selalu berseberangan dengannya.

“Mbah, sebentar lagi ya?”  

Setengah berteriak aku menatap ke arahnya. Kurang beberapa langkah lagi. Ya, aku meyakinkan hati.  Aku ingin segera sampai di dekatnya. Memegang wajahnya, kemudian menciumnya.  Sama seperti ketika kecil dulu pernah kulakukan. Meski kini lipatan-lipatan kulit yang berkerut pada dahinya,  sudah tak bisa lagi menutupi masa senjanya.

Ah, hah! Apa-apan ini?  Mendadak  kakiku tak bisa digerakkan. Seakan seseorang sengaja mengeratkan seutas tambang  pada pergelangan kakiku.  Aku sama sekali tak bisa berpindah tempat. Semakin kucoba memberontak, Terasa tambang itu semakin keras dieratkan. Hah! Aku semakin heran.


“Belum waktunya, ndhuk…!”

Dengan senyum yang memucat, tangannya melambai. Meninggalkanku sendiri yang masih berusaha lepas dari tambang-tambang yang mengikat kakiku.  Bantalku terjatuh, ketika  waktu bersamaan terdengar  sayup-sayup  seruan azan dari hape yang selalu otomatis aku pasang  alarm set sholat lima waktu. Isya’ time now, don’t be lazy!   Tertulis  jelas pada layar hapeku. Klik.Ku matikan alarm!



*Niatnya mau bikin status di facebook, kok malah kepanjangan gene* ^___^

Selasa, 20 Maret 2012

Summer Sebelum Subuh

Gambar ini saya ambil menjelang subuh.
 Dari appartmen lantai 66 di daerah Tsuen -Wan New Territories Hong Kong


Senin, 19 Maret 2012

Hong Kong and Night


Hong Kong Convention and Exhibition Centre and high-rise buildings in Wan Chai District at night time



Foto ini saya ambil dari atas Ferry

Wedding Story





Totalitas.
Saya sangat terkesan dengan fotografer ini. Mengingat, orang Hong Kong sangatlah anti dengan yang namanya duduk-duduk di lantai ataupun lapangan terbuka, apalagi sampai rela rebah-rebahan kayak gene. Gambar ini saya ambil di sebuah jalanan umum di Kowloon Park, Tsim Tsa Tsui.
 — at Kowloon Park.