Tampilkan postingan dengan label pilihan hidupage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pilihan hidupage. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

Lelaki di Kegersangan Imlek






Badai pulang berganti awan gelap. Iringan deras hujan mulai mengoyak kumpulan pasir yang menyatu di ponggahan batu. Percikan nakalnya menyeka sisi-sisi kaca jendela yang tertutupoleh lapisan debu. Harum khas aroma tanah ikut menelusup sumpalan pernafasan yang terasabuntu oleh hawa penat perkotaan. Lembaran demi lembaran dari setiap kalender itu menghilang di bawah ranjang tidurnya. Di pojok kantong sampah yang sudah tak terbuang selang beberapa pekan. Kadang, juga bisa ditemukan di bawah bantalnya.


Lentera nion berwarna merah mulai nampak menghiasi setiap sudut di kedip celah mata memandang. Pojok-pojok dari setiap pusat perbelanjaan tak kalah riuh ditelan rutinitas beraltar merah hati bercampur emas berlambang kemeriahan. Menyala-nyala di antara silau lampu yang tak mau kalah menyambut hari perayaan. Seakan bius semangat sedang membara seperti api dengan aksen merah sebagai serba-serbi. Di Pasar apalagi, suasana tak kalah ramai dengan antrian yang lebih berjubel dari biasanya. Seperti dengungan suara serangga yang berebut madu pada kuncup-kuncup bunga yang sedang mekar.

Membeli.

Menawar.

Semua larut dalam persiapan sebuah pesta. Musim dingin yang membekukan aliran darah pun tak jadi penghalang untuk tetap bersuka ria, larut dalam tawa.
***



Kecuali rumah itu. A Ho, ia biasa dipanggil. Lelaki delapan puluh tahun yang terkesan gesit dan lincah. Sangat berbeda dengan sepantarannya. Ia masih sibuk menatap sambil membolak-balikkan lembaran demi lembaran dari kalender yang terpasang di dinding ruang tamunya. Dari tahun yang bersio Macan sampai tahun yang bersio Kelinci. Ia masih sama. Hanya beberapa saja yang nampak berbeda dari rutinitas yang terlihat menjenuhkan itu. Tahun lalu ia terlihat tanpa kacamata. Namun tahun ini, kaca mata tebal dengan frame wajah simetris nampak menempel di wajahnya. Terkesan aneh ketika mata sipitnya semakin terkesampingkan oleh benda yang masih baru di wajahnya. Tahun lalu ia masih senang berpesta, berkumpul bersama bermain mahjong dilengkapi arak putih. Namun tahun ini, untuk bernostalgia pun ia sudah tak mau. Dibiarkan lampu di ruang tamunya mati tanpa ganti. Dibiarkan kran air di kamar mandi bocor tanpa memperdulikan lagi kenyamanannya untuk menikmati sisa hidup. Wajah beringas yang terkesan sangar itu sudah semakin meredup oleh penguasa dari segala penguasa.
Waktu tak mau diselingkuhi!
***



“Kenapa kau tidak nikahi saja wanita itu?”

“Bukankah dia wanita cantik yang kau idamkan?”

“Apalagi yang akan kau cari dalam hidup ini?”

“Usiamu sudah tidak muda lagi… Ingat itu! Kami tak selamanya bisa di sisimu?”

“Kau butuh generasi penerus, anakku!”
***



A Ho menutup kembali lembaran diarry di lembar 105 yang telah ia tuliskan sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia menutupnya, memasukkan kembali ke dalam laci berwarna cokelat kombinasi mengkilap.
Ingatannya mengembara pada sebuah ambisi masa lampau. Ketika sekumpulan pertanyaan yang diajukan oleh Ibunya tidak sempat ia jawab. Kesibukkan akan tuntutan kepuasan terus memburunya. Dari pagi bersua pagi ia gunakan untuk bekerja. Bersaing dengan lakon kehidupan. Bersemangat memburu kepuasan. Bepesta dengan aneka aroma arak yang memabukkan. Bercinta dengan beberapa pasangan. Bersantai dengan beberapa anjing sebagai pelipur sepi. Walupun tidak ahli, sesekali ia sempatkan waktu dengan gaya Ga Hung, seni bela diri China.


Ia sesumbar ketika itu. Tak akan terikat dengan satu wanita manapun! Pun ia tak menyukai anak-anak. Kegelisahan akan berkurangnya pundi-pundi dolar yang ia miliki lebih besar daripada persiapan masa tuanya.


Sementara usia telah merampas jiwa yang menitipkan kepercayaan pada sang raga. Sepuluh tahun yang lalu, ketika Ibunya pergi menyusul Ayahnya menuju tempat keabadian. Tempat baru di mana sebuah awal kehidupan dengan dimensi yang berbeda di mulai lagi.
***


Tahun ini masih sama. Masih dalam balutan musim dingin. Ketika kepulan asap dari cerutunya sudah tak dapat menghangatkan kerongkongannya. Ketika tubuhnya sudah tak lagi gagah dengan balutan dari kelembutan belaian sutera. Ketika Imlek untuk ke sekian kalinya ia merasakan kesepian dan kesendirian. Ketika tulang pada tubuhnya sudah tak sanggup lagi untuk menopang keseimbangan. Ketika ubun-ubunnya sudah merasakan bosan mengambil pembantu ,untuk merawatnya, mengajaknya berbincang.

Ia Bosan!

Ia sakit.

Ia tanpa teman!

Tanpa kerabat. Ketika Imlek menyapa mereka dengan sebuah hasrat yang baru, tidak dengannya. Di Panti Jompo ia kini terbaring. Mulutnya sudah tak bisa lagi lincah mengunyah makanan. Bahkan rebusan matcho, kurma merah sebagai asupan tambah darahnya sudah sulit tertelan. Selang kecil berada di antara lubang hidungnya. Infus itu pun ikut bersarang di lengannya yang kering, berbalut kulit yang sudah terlihat lemir. Ia menangis. Pun perawat itu tak sanggup membuatnya tersenyum.


New Territories-Hong Kong, 090611 at 17:45

Ketika keprihatinan di kehidupan kelak menyusup hatiku, tentang mereka. Orang yang hidup satu atap denganku. Mereka bilang, dengan harta hidup itu bisa bahagia. Apapun dapat terbeli. Ternyata tidak adanya. Bermilyar pun jumlahnya, ia tidak akan dapat membeli kesehatan.
( Mengintip secuil fenomena kehidupan masyarakat di Hong Kong)

Jangan Panggil Aku Pelacur!




Tuhan itu Adil!
Teriak batinku yang tersayat malam itu. Ketika pertama kali dalam hidupku aku merasa sangat terhina. Ketika tubuhku terjamah oleh manusia pemburu nafsu kebrutalan. Tercabik oleh pemuas ladang kebejatan.
Aku marah!
Aku sangat marah!
***


Kepergian Ibuku menjadi TKW ke Arab Saudi tak seberuntung lek Nuryati, Budhe Katiyem, atau mbak Jumiati, tetangga rumah yang sukses dengan gelimang harta. Membawa berjuta pundi-pundi real ke dalam Kantongnya. Atau mereka membangun rumahnya dengan bangunan yang kokoh serta megah.Keinginan Ibuku sebenarnya tak muluk-muluk. Sangat sederhana. Hanya ingin mengembalikan hutang kepada tetangga kanan-kiri, itu saja!



Operasi kanker yang diderita Bapak dalam rentang dua tahun ini, menghabiskan banyak sekali biaya. Apalagi keluarga kami adalah keluarga dalam taraf ekonomi biasa saja. Sangat biasa. Bapak bekerjahanya sebagai tukang becak. Mereka menyebut singkat tentang pekerjaan Bapakku dengan sebutan ‘hanya’. Tetapi tidak denganku. Aku menyebut Bapak adalah kebanggan dalam keluarga kami. Dari peluh siang dan malamnya lah aku beserta Ibu dapat menikmati syukur ketika sesuap nasi serta sesruput air teh manis itu menjulur merayapi kerongkongan kering kami. Dari peluhnya lah aku bisa merasakan mengenakan baju baru, walaupun itu harus menunggu lebaran menyapa. Setahun sekali pun tak mengapa, aku bahagia!
***



Kepulangan Ibuku dalam waktu yang sangat singkat sama sekali tak kami duga sebelumnya. Dulu, si mbok sering mengisyaratkan apapun melalui mimpi. Dan mungkin itulah firasat yang telah Tuhan berikan kepada keluarga kami. Bapak yang saat ini dalam keadaan lemah terbaring tanpa daya di ranjang kayunya, bermimpi kalau giginya bagian atas telah tanggal. Tetapi Bapak hanya diam malam itu. Ia mencoba tak mempercayai mitos Jawa yang telah bertahun-tahun dipakai oleh si mbok.
***



Hanya dengan waktu satu tahun, Tuhan telah membuat skenario tak lagi sama. Ibuku pulang dalam keadaan pucat pasi, membeku dalam suntikan obat yang membuat tubuhnya kaku. Terbujur dingin dalam peti berwarna cokelat mengkilap. Selembar surat dengan tanda tangan dan stempel orang berseragam itu menjadi pengatar kepulangannya Senin sore ketika hujan mengguyur kampung kami. Mereka berkata, kalau Ibuku terjatuh dari lantai 14 sewaktu sedang mengelap jendela di tempat kerja ia tinggal. Bapak, aku dan si mbok hanya bisa diam. Tangis kami tak bisa menggantikan keterangan surat pengantar ataupun mengembalikan jiwa yang telah hilang. Sangat singkat dan sederhana. Ibuku pergi dalam niat tulus yang dia rancang demi keluarganya. Tetapi ternyata Tuhan telah mempunyai kehendak lain untuk Ibuku. Untuk aku, Bapak dan si mbok.
***


Jam 11 malam, kukenakan pakaian berwarna merah jambon sebatas dada itu. Ku oleskan gincu merah marun ke lapisan atas dan bawah bibirku. Kubedaki pipiku dengan taburan bedak yang telah ku semai dengan rapalan mantera dari mbah Jadi, dukun di belakang rumahku, agar tamuku bisa ketagihan dan datang lagi padaku. Sepatu ber-hak tinggi warna sepadan baju menemaniku. Dan tak lupa ku biarkan rambut ikalku yang sepunggung tergerai, ke samping kiri-kanan mengalunkan tarian bersama desahanangin malam. Sama seperti diriku yang hanya me-lakonkan alur kehidupan.



Di Pasar Wage aku mangkal malam itu. Di dekat warung Pak Karto mereka biasa menemuiku. Lelaki hidung belang saling kelayapan ketika malam mulai mengintip fajar. Di dekat terminal, suara musik dari alunan pedangdut jalanan berhenti seketika. Ia bertanya kepada lingkaran beberapa pasang mata lelaki yang sedang mengitari serta mendengarkan suara yang sama sekali tak merdu itu. Permintaan lagu dituruti dengan desalan saweran tangan yang menjulur nakal ke arah buah dadanya.


Kering sudah rasanya air mataku
Terlalu banyak sudah yang tertumpah
Menangis meratapi buruk nasibku
Nasib buruk seorang tunawisma
Langit sebagi atap rumahku
Dan bumi sebagi lantainya
Hidupku menyusuri jalan
Sisa orang yang aku makan……
Jembatan menjadi tempat perlindungan
Dari perih matahari dan hujan
Begitulah hidup yang aku jalani
Entah sampai kapan hidup begini….



Lagu kawakan dari sang raja dangdut memulai pesta malam itu, dengan desahan serta gerak manja penyanyinya. Malam itu semua insan pemburu syurga dunia larut dalam suka. Sederhana. Mereka hanya ingin bahagia, dan menikmati hidup. Senyum yang tidak terlalu ikhlas ku simpulkan ketika mataku kembali menemukan wanita muda itu menggeliat oleh saweran beberapa lelaki.
Sementara aku, di sini. Bersaing dengan beberapa wanita remaja lainnya. Atau bahkan juga mereka, para waria. Menunggu si hidung belang. Sambil melontar umpan.

Sekali lagi.

Jangan panggil aku pelacur!

Keinginanku hanya sederhana, sesederhana Tuhan membuat Ibuku berpulang. Aku hanya ingin makan!
Jaga lelakimu, jangan salahkan aku jika mereka mencariku untuk ke sekian waktu!


Mengingat malam itu, di Pasar Wage Tulungagung aku mengenalnya.
Hong Kong-  01.27 am-08 juni 2011