Minggu, 15 Januari 2012

Menjemput Subuh

Menjemput subuh. 
Bukan sebatas olah tubuh. 
Lungguh dan rukuh. 
Grasah-grusuh kemudian wabarakatuh.
Menjemput subuh. 
Adalah bukti dawuh para diri-diri rapuh.
Sepenuh sungguh. 
Seampuh patuh.







Ani Ramadhanie
Ba'da subuh. 16 Januari 2012
Newterritories







Sabtu, 14 Januari 2012

Sabtu

Adalah sabtu yang diawali dengan nawaitu
Semoga bukan melulu gerutu yang menyisir waktu
Begitu juga dengan galau yang lebih mirip seperti hantu
Adalah sabtu
Semoga pangestu tidak lagi menjadi piatu





Selamat hari sabtu....
Ani Ramadhanie
Dingin. Newterritories. 14 Januari 2012

Rabu, 04 Januari 2012

Waktu


Berjalannya waktu semoga tidak menjadi kaku.
Ini antara kita, aku, dan kamu.
Tentang waktu, dan semangat itu.
Mencinta tidak melulu harus menyatu.




Ani Ramadhanie
Hening. Newterritories. 4 Januari 2012

Selasa, 03 Januari 2012

Di Hati Atau Genggaman, Mana Pilihanmu?



ESQ 1-2 Januari 2012/ani.doc


Chou san Selamat Pagi!!!
Chou san!!!

Lei hou? Apa kabar?
Hou!!! Baik!!!


Sapaan itu menghentak serempak di antara sekitar 400 peserta  training yang hadir memenuhi Youth Square Building di  Chai Wan. Minggu, 1 Januari 2012. Tahun baru yang menyapa tepat di hari minggu, mendatangkan rezeki tersendiri bagi kami (red-Buruh Migran Indonesia) di Hong Kong).

Hak libur  yang telah ditata rapi oleh Hong Kong membuat kami bisa mendapatkan  kesempatan yang sangat luar biasa meskipun dalam kesempitan waktu yang ada.   Yaitu hak libur di setiap minggunya beserta  12 hak libur nasional  setiap tahunnya.

Adalah hal yang wajar ketika waktu liburan datang, hiburan menjadi uberan kawan-kawan BMI di Hong Kong. Hal itu tidak terlepas dari kelelahan fisik serta mental setelah sepekan termakan rutinitas yang begitu melelahkan.


Tahun baru!
Yaps. Apalagi untuk yang ini. Bahkan semenjak jauh-jauh hari sudah dirancang berbagai kegiatan untuk melewatkan moment pergantian tahun ini.  Berbagai tawaran datang. Tahun baruhan yang identik dengan pesta dan perayaan yang wah, juga sudah terlihat  nyembul di angan-angan. Paling tidak, bagi saya ini adalah moment yang pas untuk berkumpul dengan kawan lama yang sudah sangat jarang bersua. Karena selama ini, saya selalu sibuk diberbagai kegiatan Minggu ataupun bergabung bersama kawan-kawan organisasi yang ada di Hong Kong. Mengisi liburan dengan berbagai kegiatan. Belajar banyak hal dari berbagai ragam guru kehidupan.

“Tolong bantu kawan-kawan di LSO (Lentera Sukses Organisasi) di acara tanggal 1-2 Januari.”

Yaps. Saya langsung mengiyakan tanpa berfikir panjang. Karena jauh-jauh hari saya sudah tahu jika kawan-kawan di LSO akan mengadakan event besar di awal tahun.  Dengan berat hati saya lalu menghubungi kawan-kawan yang lain yang sudah membuat janji barbecue di kawasan Tai Mei Tuk, Taipo.  Maaf, belum bisa menepati janji untuk ngeluyur bareng. InsyaAllah semoga nanti saya masih ada waktu yang tepat, kawan.


Mendadak saya merinding sendirian.  Ingatan saya mengembara dengan cepat  ketika 9 Januari 2011 yang lalu, alhamdulillah  saya berkesempatan  menghadiri training ESQ yang sama. ‘Bentuk Karakter Bangun Pribadi Emas’ adalah tema yang diangkat dalam kesempatan itu. Dance Cafe Building—Fotress Hill satu tahun yang lalu saya  mulai mengenal ESQ.
ESQ 9 Januari 2011/ani.doc


ESQ 9 Januari 2011/ani.doc





Mungkin memang sangat telat bagi saya untuk  tahu tentang ESQ. Keterbatasan waktu serta jarak yang jauh membuat saya  tidak begitu aktif up date berita di tanah air semenjak kurang lebih 6 tahun ini.

Saya masih ingat pula, ketika tangis saya pecah dengan dasyatnya. Seumur-umur saya menangis dengan durasi waktu yang lama dan melelahkan dalam hidup saya baru terjadi dua kali.

Pertama adalah ketika saya lulusan SD. Adalah keisengan dari paman saya. Setelah mengambil ijazah kelulusan oleh wali murid,  saya diberitahu kalau nilai ujian saya tidak memadai untuk memasuki salah satu Sekolah Negeri  favorit di tempat saya. Seketika itu saya tersungkur. Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal dalam setiap nilai Raport terakhir ujian saya, paling tidak saya tidak lari dari peringkat 10 besar. Bahkan saya bisa bertahan diperingkat 3 besar ketika itu.

 Dari pagi sampai sore saya menangis di kamar. Tidak mau makan dan tidak mau apapun. Dibujuk apapun juga tidak mempan. Setelah magrib usai, baru saya dipanggil keluar dengan paksa oleh nenek saya. Tawa mereka pecah seketika menatap wajah saya yang sudah kuyu seperti sayur yang direbus.  Hahaha, katanya saya berhasil dikerjai. Makannya belajar yang rajin ya, nduk! Hohoho, akhirnya.

 Setelahnya  saya  baru tahu sendiri nilai asli dari ujian itu.   Dan ternyata....Alhamdulillah perasaan lega menyelimuti  hati saya. Hmmm, tahu dikerjai begini. Menyesal dech nangis dari subuh sampai malam. 

Dan tangis  hebat kedua dalam hidup saya terjadi ketika saya mengikuti training ESQ yang pertama, awal Januari 2011. Perasaan berekecamuk memenuhi rongga dada saya.  Sesak. Saya menangis dengan dasyat ketika itu. Badan saya terasa lemas. Tenaga terkuras habis seharian. Bukan karena kerja yang melelahkan, tetapi karena emosi yang terluapkan.

Setelahnya saya cepat menelfon Ibu saya yang berada di kampung. Saya meminta maaf kepada Ibu saya. Dan tanpa dinyana, tangis Ibu saya juga pecah setelah mendengar kata maaf dari saya. Ya, tangis kami pecah. Beradu  di antara ujung ketemu ujung telfon yang bermuara kerinduan.  Sangat mengesankan, karena selama ini saya belum pernah mendengar atau melihat langsung Ibu saya menangis.

 Saya yakin, bahwa tidak ada orang tua yang tidak akan terketuk pintu hatinya ketika anaknya meminta maaf. Meletakkan emosi  pada tempat yang paling dasar. Dan segala ketinggian hati yang selama ini kadang lebih  banyak menguasai, memenuhi rongga-rongga yang kosong di sisa persendian. Bu, maafkan untuk salah anakmu yang  selama ini bandelnya minta ampun.
Hehee, jadi curhat.

Kembali ke laptop. Eh, ke ESQ diiiiing.....

Saya menjadi lebih siap untuk menghadiri training ESQ kali ini. Luar biasa! Itulah yang bergumam di hati saya. Apresiasi yang luar biasa atas semangat kawan-kawan yang telah merelakan waktunya untuk ilmu dan kesempatan yang luar biasa ini. Terhitung jarang-jarang ada acara seperti ini di Hong Kong dibanding dengan gelaran hiburan yang lebih merajai di luar sana. (red-kawasan kampung  jawa dan sekitarnya).


Presentasi langsung dari pendiri dan pimpinan ESQ Dr. H.C Ary Ginanjar Agustian, membuat musim dingin ini tidak begitu terasa dingin lagi. Berbagai macam materi membombardir semangat kawan-kawan BMI. Penyampaian materi yang sangat padat terasa lebih cepat sekali tak terasa. Waktu pagi berubah siang. Siang berburu petang. Semua berjalan begitu cepat.  Nilai-nilai keberanian, kedisiplinan, keteguhan,  kejujuran, ketangguhan, serta keinginan menjadi kunci utama untuk perubahan  karakter diri yang lebih baik lagi. Hingga datang penyampaian materi Asma’ul Husna. Tangis kami pecah. Ya Allah, saya tak kuat menahan derai air mata serta rasa sesak yang ingin meledak dalam dada.


Di tengah himpitan bermacam cobaan. Gunungan masalah. Terkait guncangan masalah perekonomian. Latar belakang dengan keluarga dan keharmonisan.  Masalah pergaulan dan salah pilih teman. Perjuangan keras  mengubah nasib demi masa depan yang bahagia, seperti cita-cita awal  yang kami impikan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Hong Kong-----yang kesemuanya  mengawali carut marutnya ketidak tahuan apa yang menjadi tujuan hidup kami.

Gedung itu terasa terhimpit oleh suara jerit tangis wajah-wajah yang kering kerohaniaannya. Selama ini, di Hong Kong adalah sangat sulit untuk tetap bisa memegang  identitas keislaman kami. Mengingat kami hidup di wilayah yang minoritas Islam, tidak dapat dielakkan jika terjadi larangan-larangan untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan kami.


Luapan semangat, kebahagiaan serta keharuan menyelimuti kawan-kawan yang menghadiri acara ini.  Beragam ekspresi terlihat muncul di raut wajah mereka. Bahwa untuk menjadi yang lebih baik lagi dalam menyikapi hidup ini  seakan tersirat dalam aura-aura baru mereka.  Semoga hidayah menyertai kami Ya Rahim. Amin.


Dengan menempatlan diri  sama seperti kawan-kawan saya, harapan besar muncul untuk kawan BMI lainnya. Semoga kerja keras kita selama ini dalam bekerja siang dan malam tidak hanya mengejar kebahagiaan materi saja.  Hong Kong adalah bukan tujuan terakhir kita. Jangan jadikan diri kita terlalu lama menjadi korban shock culture dengan kemanjaan materi dan kemewahan yang sekarang dapat dengan bebas kita genggam erat di genggaman.  

Jangan jadikan diri kita diperdaya oleh mereka para pemilik modal yang besar, sehingga menjadikan diri kita lemah; takut oleh kedzaliman. Berhematlah kawan. Jangan membiasakan diri menjadi sosok yang konsumtif akut. Ingatlah tujuan awal kita berani menginjakkan kaki di Hong Kong ini. Akan berapa lama  kita di Hong Kong ini? Bukankah tidak ada jaminan akan selamanya kita bisa berada di Hong Kong ini? Sementara untuk kita, khususnya saya menasihati diri saya sendiri jika kita juga tidak tahu dan tidak ada jaminan sampai kapan usia kita akan tetap di titipkan  oleh Allah pada raga ini?


”Letakkan suami, uang, anak, harta, kemewahan, harga diri itu hanya  pada genggaman tangan kananmu. Tetapi letakkan Allah yang ada di hatimu.”

“Bukankah sudah banyak kejadian di muka bumi ini sebagai contohnya? Suami akan pergi. Anak akan pergi. Harta akan hilang. Harga diri dapat di rusak. Lalu kenapa engkau masih bersandar pada mereka? Bukankah engkau pernah kecewa akibat terlalu berharap pada mereka. Lalu  di mana engkau letakkan Allah selama ini?” Mengutip training pada hari Minggu-Senin kemaren.


Ya Rabb semoga Engkau membuka pintu hidayah pada kami. Memberi kami kesempatan untuk menata dan membawa hati ini ke jalan-Mu. Bahwa Engkau mengetahui apapun yang kami lakukan, meski Ibu, bapak,  beserta kawan  kami tidak mengetahuinya. Dan kelak Engkau akan meminta pertanggung jawaban dari itu semua.  Astagfirullah...
ESQ 1-2 Januari  2012/ani.doc


Ekpresi kegembiraan. ESQ 1-2 Januari 2012/ani.doc





Ani Ramadhanie
New Territories
Hening.4 Januari 2011
Catatan ini saya buat bukan untuk menggurui siapapun. Sekedar ruang saya berbagi tentang sekelumit hati sebagai pengingat diri. Wallahu’alam....

Jumat, 30 Desember 2011

Kopdar Kompasianer Hong Kong, Bersama Kompasianer Jakarta


1319991182283288116
 Kompasianer Hong Kong bersama Om Julianto Simanjuntak.Saya, Om Julianto Simanjuntak,Fera,mbak Ina, Teman mbak Ina, mbak Sarwendah Rahman/ani.doc





Om Julianto Simanjuntak. Atau lebih dikenal dengan sebutan Bang JS.  Namanya sudah sangat tidak asing lagi bagi para kompasianer tentunya. Kompasianer yang menetap di Jakarta dan selalu menghiasi hari-hari  kompasiana dengan tulisan-tulisan yang sangat menginspirasi pembaca. Akhirnya mendarat juga di Hong Kong. Setelah  kedatangannya kami tunggu semenjak satu bulan yang lalu. Melalui komentar di salah satu artikel beliau, saya mendapat kabar dan  tawaran untuk mengadakan kopdar bersama  teman-teman kompasianer yang berada di Hong Kong.  Bagaimana mbak, bisa? Yaps, saya mengiyakan! Sungguh senang sekali jika beliau mau meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukan seminar dan kegiatannya berkunjung ke Hong Kong ini.




Saya berbagi tugas dengan Fera Nuraini. Kompasianer dari Ponorogo, admin event-event fiksi yang sudah popular itu untuk menghubungi kompasianer yang berada di Hong Kong. Menawarkan kopdar bareng bersama  Om Julianto Simanjuntak di hari Minggu,  bertepatan dengan jatah kami liburan.



Setelah janjian dibuat, waktu dan tempatpun disepakati. Saya bertemu dengan Fera Nuraini, Sarwendah Rahmah sekitar jam tiga sore di jalanan padat Causeway Bay. Kami berangkat bersama-sama untuk menjemput Om Julianto Simanjuntak yang berada di tempat seminar, daerah Fotress Hill. Alamat sudah kami kantongi. Tak terlupa nomor kontaknya. 

Jam empat, kami bertiga sudah sampai di tempat yang tertera pada alamat. Tetapi sore ini, kami sempat dibuat resah dan penuh debar. Menunggu terlalu  lama, yang ditunggu tak datang juga. Dan ternyata, waktu kami terbuang sia-sia. Alamat yang sudah membuat kami menunggu sekitar satu jam di lobi, ternyata salah. Di ujung telfon, Om Julianto Simanjuntak juga sedang resah. Haha, ceritanya nih, kami saling tunggu-menunggu. Kembali mencari, dan akhirnya sampai juga di tempat yang di tuju.



Kedatangannya disambut hangat oleh teman- teman kompasianer  Hong Kong yang menyempatkan waktunya untuk hadir. Mengenakan kemeja putih berlengan pendek, senyumnya sumringah. Nampak lebih muda dari usia yang  berpagut pada raga.  Setelah bertemu dan saling bertegur sapa, kami memutuskan untuk pergi ke Jordan. Restoran Bali, tempat asyik untuk menikmati sore dalam kebersamaan.


1319991279896961199
Sharing dan konsultasi dengan pakar/ani.doc


Sementara di ujung telfon, kompasianer lain yang berhalangan datang tidak kalah hebohnya. Bang Nasr dan Nova Azha, turut menyampaikan salam takzim dan permintaan maaf karena berhalangan hadir untuk dapat berbaur dengan kami. Di MTR Jordan, kami masih harus menunggu mbak Ina. Kompasianer Hong Kong,  yang kebetulan ini adalah jumpa saya untuk pertama kali dengannya. Ramah, dan sungging senyum tak pernah luput dari pipinya.



Nasi rendang, mi goreng khas lidah pribumi, roti prata menjadi menu pilihan kopdar  santai kami.  Acara berlangsung santai sore ini. Saling berbagi dan mencoba untuk saling mengenal, meski kami berada dalam keberagaman latar belakang.


Om Julianto Simanjuntak, yang berkarya di ladang konseling membuka topik sore ini. Mulai bertanya, bercerita  dan mencoba untuk lebih mengenal teman-teman kompasianer. Dan hasilnya, kopdar kami bukan hanya sekedar kopdar. Tetapi lebih mengarah kepada curhat dan konsultasi. Hehehe, cerita sore ini, kami mendapat konsultasi gratis  bersama Om Julianto Simanjuntak. Dan tidak tanggung-tanggung, jika perbincangan kami lebih mengarah kepada tips-tips jitu cara penyelesaian masalah yang sedang dihadapi oleh masing-masing kompasianer yang bertanya. Dan salut sekali kepada  Om Julianto Simanjuntak, dengan telaten menjadi pendengar, menjawab pertanyaan,  dan memberikan solusi permasalahan.



Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Kami lanjutkan perjalanan dengan mengajak Om Julianto Simanjuntak jalan-jalan di pasar malam di Jordan. Pasar  yang berada di kawasan  Temple Street ini, hanya dibuka ketika sore menjelang sampai malam hari. Mayoritas pembeli  yang datang adalah  wisatawan-wisatawan mancanegara. 


 Dan harga pun sudah bisa ditebak sangat berbeda dari tempat lainnya. Harus pinter-pinter nawar istilahnya. Sebuah buku catatan kecil  dan sangat unik yangcovernya terbuat dari kulit dibandrol dengan harga seratus lima puluh dolar. Kami menawar tujuh puluh dolar saja. Tetapi masih belum bisa, dan akhirnya kesepakatan finalnya adalah seratus dolar. Sepasang papan catur unik memikat hati Om Julianto Simanjuntak. Beliau berujar, jika anaknya menyukai catur dan ingin memberikan oleh-oleh catur tersebut. 


 Harga bandrolnya adalah dua ratus lima puluh dolar. Kami menawar dengan harga seratus delapan puluh dolar, tetapi penjual kekeuh menolak. Sudahlah, kalau tidak boleh segitu kita pergi saja yuk! Cari tempat lain saja. Saya mengajak berpindah untuk mencari tempat yang lebih murah. Dan tanpa dinyana  atau memang ini adalah strategi yang harus kita pakai sebagai pembeli, papan catur unik itu dilepas dengan harga final seratus delapan puluh dolar. Wow, fantastis!

13199914221736790474
Aksesoris khas Hong Kong/ani.doc
1319991473595299736

Papan catur cantik, oleh-oleh mendadak dari kompasianer Hong Kong/ani.doc 

1319991356174023432
Lukisan dengan sentuhan cantik nan apik terpampang dengan harga yang beragam/ani.doc




Sekitar satu jam di pasar malam  kawasan Jordan,  kowloon. Ujung ketemu ujung kami putari. Huntingbarang yang diinginkan pun sudah terbeli. Harus pinter-pinter nawar, kuncinya. Sama saja ketika membeli barang di Indonesia, tawar-menawar adalah hal yang wajar.


Tak terasa waktu menunjukkan jam delapan malam. Pertemuan yang singkat dan sangat berkesan pun harus berakhir. Di dalam MTR Jordan kami saling berpeluk, mengucapkan salam takzim dan terimaksih untuk pertemuan yang berkesan hari ini. Kompasiana membawa banyak cerita  baru, seru dan beragam dari  kompasianer yang memang  beragam latar belakang.

13199915791834506543
Kompasianer, menjelang berpisah/ani.doc

1319991532114076846
Stasiun MTR Jordan. Moment yang tak pernah terlupa/ani.doc


1319991665505179782
Dapat oleh-oleh buku dari penulisnya langsung. Seni Merayakan Hidup Yang Sulit oleh Om Julianto Simanjuntak. Terimakasih. Menambah koleksi bacaan saya. Dan bersiap membacanya.ani.doc

1319991617465428611
Nah, lo. Percaya kan. Masih muda dan penuh semangat.






Kamar.30.10.11.11.00
Newterrotories, pertemuan memang selalu membawa kesan…




Rabu, 21 Desember 2011

Dua Tahun Itu


gambar:kembarad7000.blogspot.com


Tak banyak yang tahu tentang janji itu. Janjiku dan kamu. Begitu sederhana janji kita. Atau memang kita berdua sengaja membuatnya sesederhana mungkin--- sehingga tak harus ada khawatir untuk terbesit ingkar di hati kita masing-masing.

Ya, janji kita untuk bisa bersama menjalin ikatan.  Janji yang akan kita lanjutkan ke jenjang yang lebih indah. Dalam cerita hidup yang akan kita ukir berbingkai coretan kisah sejarah---yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita nanti. Nanti. Ya, nanti?

Pernikahan, itulah tujuan kita saat itu. Sebuah janji sama-sama kita ukir dengan pena yang sama dalam hati kita. Sebuah janji yang sama-sama kita jaga untuk tujuan yang sama---yaitu kebersamaan.  Setia itulah ikrar kita saat itu. Ya, setia. Aku pasti akan memegang ikrar kita.  Janji yang tulus yang pernah ku ucapkan padamu ketika itu.

Hanya dua tahun, itulah pametku padamu ketika itu. Bukankah waktu dua tahun itu sangat terasa lama?, tanyamu padaku ketika itu. Tidak sayang, waktu dua tahun itu akan sangat terasa cepat bagi kita kalau kita sama-sama menjaga janji kita. Ku coba kembali menyakinkanmu dengan sebuah kepastian, bahwa aku pasti akan pulang dalam waktu dua tahun. Kutinggalkan sebuah arloji untukmu, agar engkau dapat memandangi waktu dan mengingatku setiap saat. Bahwa dua tahun itu akan sangat terasa cepat.


Kejujuran dalam hatiku memberontak saat itu. Aku tak ingin jauh darimu, dan alasan ini terus dan terus memburuku hingga memenuhi bilik-bilik mimpi kerinduanku padamu. Aku terdiam atas sikap nekatku saat itu. Kuputuskan pergi untuk beberapa saat bukan karena tanpa alasan. Justru inilah masa depan kita. Dua tahun terasa cepat ketika musim dingin pertama bulan Oktober menyapaku. Ketika aku masih sangat asing dengan musim yang masih baru. Ketika aku harus bertahan hidup tanpamu di sisiku. Seluruh pori-pori kulitku mengering----akibat musim yang terasa kering. Darah segar mengucur dari hidungku,dan kata mereka aku kurang minum air. Tubuhku memberontak dengan kondisi ini.  Aku ingin pulang!!!



Satu tahun lagi janji itu akan datang kepada kita. Aku bersabar untuk itu, dan aku harap di sana engkaupun akan juga lebih bersabar. Untukku, untukmu, dan untuk kita berdua. Kegiranganku bertambah, semenjak musim dingin berlalu dan tergantikan musim panas yang sangat menyengat. Matahari seakan-akan sombong sekali terhadap penduduk bumi--- termasuk juga padaku, yang harus rela membiarkan kulitku berwarna gelap akibat sinarnya yang tak bersahabat.


Tapi, tak apalah. Hatiku merasa sangat terhibur ketika lembar demi lembar kalender berganti. Hari Senin menguber  Senin kembali terasa cepat silih berganti. Bukan dua tahun itu yang ku rindukan. Tetapi dua bulan lagi yang kurindukan. Dua bulan lagi aku akan pulang.

Tunggu aku, bersabarlah demi janji kita. Aku menjaganya hingga kini untukmu. Untukku dan untukmu.
Dengan hadir bayangku serta hadir bayangmu yang seutuhnya. Dengan segenap jiwa serta hati putih yang kita simpan dalam jemari rindu kita.  Semua luka dan kesedihan kita selama ini akan segera tergantikan dengan pertemuan.



Tetapi, langit seakan gelap saat itu---matahari seperti berbalik arah terbitnya di senja kelabuku. Waktupun seakan berhenti ikut berlari dari kalender demi kalender yang telah kususun rapi untukmu. Yeung UK Road Tsuen Wan, senja petang ketika aku mengumpulkan sisa tenaga yang terhempas asa.

Sebuah SMS “pametmu” padaku---disertai maaf yang tersingkap khilaf. Kau ungkapkan kalimat penganiayaan itu padaku,“besok adalah hari pernikahanku dengan gadis pilihan orang tuaku.”


Ani Ramadhanie
Hening. Man King Fung, 30 Oktober  2010

Senin, 19 Desember 2011

Wanita Penunggu Pohon Mangga



gambar:terselubung.blogspot.com



Konon, wanita itu terlalu cantik untuk disebut sebagai seorang wanita. Banyak orang  menyebut dirinya adalah jelmaan putri raja. Keturunan darah biru. Bahkan cerita yang lebih menggemparkan yang sempat kuingat adalah ia sangat sempurna. Bentuk nyata penuh kharisma yang selalu dipuja kaum Adam. 


Rambutnya panjang terurai menyapu tanah. Senyumnya menggetarkan setiap degup jantung yang sudah enggan berirama. Aroma tubuhnya bukan hanya wangi. Tetapi mungkin inilah aroma surga yang banyak diimpikan setiap insan. Wajahnya? tidak usah diragukan lagi, air liur lelakipun akan terasa sangat sayang tertelan jika ia memunculkan keberadaanya.

Arum!!!


Mereka menyebutnya. Ia mulai membuat heboh kembali di kampung kami. Setelah ia muncul kembali --semenjak hari ke-tujuh kematiannya yang misterius.

 Warga Hulu Karam, tak lagi setenang dulu. Keheningan beberapa puluh tahun yang lalu, seakan terpoles oleh kanvas berwarna hitam yang terus memburu dinding pelabuhan. Kembang desa itu tak lagi ada. Ia hilang dari tatapan, tapi tak lenyap di peradaban. Tak ada yang tahu kejadian malam itu. Malam dimana terjadi pembantaian oleh orang misterius yang menghabiskan seluruh keluarganya . Tak ada jerit.  Tak ada tangis--juga ratapan yang terdengar.



Tanpa ampun, mereka membuat semuanya sama sekali tak tersisa. Pak Budiman beserta istri terkapar di kamarnya dengan beberapa puluh tusukan pisau yang menganga. Darah segar mengucur, bak kran air yang rusak termakan karat. 

Arum, kembang desa itu tak kalah tragis dari kondisi orang tuanya. Ia ditemukan tergantung dengan lidah yang menjulur dari dalam kamarnya. Bajunya terkoyak oleh jamahan tangan setan yang tak kenal tata krama. Tak ada yang tahu ulah siapa itu?


Misteri!!!
Semua orang diam penuh tanya. Misteri terbungkus trauma yang menjulurkan cerita baru ke dalam sebuah babak kehidupan berikutnya.



Brakkkk!!!!!!!

Tok..tok..tok….!!!

To…tok…tok…!!!

Tok…tok…tok…!!!



Pintu kayu rumahku seperti ada yang mengetuknya. Semakin cepat ia mengetuknnya, dan semakin cepat lagi. Guncangan dari badan yang sembari ia sandarkan pada daun pintu tua itu, membuat bunyi engsel yang sudah tak lagi perawan terdengar riuh merajai sepinya malam.


“Mbak…buka pintunya!”

“Mbak…c-e-p-e-t mbak!”

Suara Aryani, adik lelakiku terdengar parau. Nafasnya terdengar jelas saling berburu diantara buliran keringat yang membuat basah kaosnya. Ia nampak pucat sekali.

“Ada apa Yan?”, teriakku jengkel sembari menutup pintu.

Hhhhh…hhhh…hhhhh….


Nampak ia berusaha mengatur kembali nafasnya yang tak lagi normal terkendali. Segelas air hangat dari tanganku setidaknya membuatnya kembali mereda ketengangan.

“Mbak..mbak.., eh…a-k-u nggak mimpi kan?”


Iyan bertanya kepadaku sembari menampar sendiri mukanya. Sekali, di pipi kanan. Dua kali di pipi kiri. Ia nampak aneh sekali. Ia diburu oleh rasa takut yang sangat tak terkendali. Dan ini, baru kulihat pertama kali pada dirinya.



Tuturnya-- ketika ia melintasi gang enam lima, Iyan mengaku kalau bahunya dipukul dari arah belakang. Ketika ia menoleh, tak ada satupun orang yang sedang mengikutinya. Dibiarkan saja, namun hal yang sama kembali terulang. Pukulan di bahunnya terasa lebih keras dari sebelumnya. Bau anyir seketika menyengat mengikuti tarian angin malam yang menyusup di dua sela pernafasannya. Kaki yang ia andalkan untuk berlaripun, terasa terpatri oleh lekatan lem yang menempel pada dasaran tanah pasir yang sedang ia pijak.
***




Penduduk Hulu Karam percaya tempat tinggal para hantu disebut tempat angker atau sanget. Dan tak ubahnya, Masjid adalah tempat yang dianggap bersih serta suci. Adanya pantangan atau pamali masih dipercaya dan diyakini dengan taat. Terutama menyangkut kehidupan dan aktifitas sehari-harinya. 


Walaupun bukan merupakan peraturan tertulis, namun penduduk Hulu Karam tetap menjungjung tinggi tradisi kampung ini. Pada hari Suro,daerah yang sudah dianggap didiami para hantu tersebut, selalu tak lupa untuk tetap di beri sesajen. 


Hal ini menurun dari generasi ke generasi yang tak tahu siapa pemulanya. Sementara, kondisi Iyan kembali normal. Ia nampak biasa saja, seperti semula. Namun, petang itu. Kamis Legi jam sembilan malam, setelah Iyan masuk rumah dan memarkir sepeda motornya-- ia duduk terdiam di kursi rotan. Tak orang yang ia sapa seperti biasa kepulangannya. Tiba-tiba ia menjerit histeris sambil berkata,

”Jangan ganggu aku. Pergi…!”

“P-e-r-g-iiiiiiiiiiiiiiii…!”

Nafasnya naik turun, Iyan terpental ke tanah.

Hhhhhh…hhhhhhhhhh…hhhhh….

“T-o-l-o-n-ggggggg….!”, teriakku.



Semua tetangga berdatang malam itu. Rumah kami ramai seperti kondangan pada gelar hajatan. Iyan tersungkur dengan badan yang semakin kaku. Empat lelaki dewasa berusaha mengitari tubuhnya, agar ia tak terlepas dan berusaha lari. Iyan menggerang dengan cerocos mulut semakin tak menentu.



 Matanya tertutup rapat, tetapi masih sama dengan tenaga yang tak kalah kuat. Sesekali saja mata itu terbuka, ia langsung memelototi siapa saja yang berada di sekitarnya. Ketakutanku tak dapat aku sembunyikan. Memaksaku untuk bersembunyi dari tempat dimana Iyan masih terkapar. Dari bibirnya, ia menerocos lagi tak karuan. Suaranya berubah seketika, mimik manja tersungut dari arah senyumnya.


P-e-r-e-m-p-u-a-n? 

Haaaaaaa…?


Semua orang bertanya-tanya, siapa perempuan yang merasuki tubuh Iyan saat ini?

“Sakit….sakit…”

“Antarkan aku pulang…!”

Hhhh…hhhh…hhhh…

“Aku ingin pulang…!”, Iyan tetap mengomel tak tentu arah dengan suara perempuan yang terdengar.
Dadaku berdesir halus, sangat halus bahkan dari halus kelembutan sutera. Aku takut, semakin takut.

“Duh…Gusti?”
***



Dengan siaga, ternyata kang Yanto, tetangga kami telah memanggil seorang ustadz dari desa sebelah. Dengan dilantunkan ayat suci, tubuh Iyan mengoyak lebih dasyat di genggaman para lelaki disekitarnya. Matanya terlihat membuka lebih lebar dari sebelumnya. Nafasnya saling menguber, berburu. Tubuhnya nampak lunglai.


“Hahhhh..pergi kau!”

“Panas…!”

“Panas…!”

“Panas…!”


“Kalau tidak, akan kupanggilkan semua teman-temanku!”

“Arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhhhhh……………..!!!”

***




Dari cerita ustadz itu, dapat terungkap bahwa makhluk halus itu berasal dari Pohon Mangga yang berada di pekarangan belakang teras rumah Pak Budiman. Dan disarankan agar Pohon Mangga itu segera ditebang, tanpa menundanya.


“Harus sekarang Pak Ustad?”, tanya kang Yanto.

“Iya kang.”

“Gak bisa besok ya Pak?, kan sudah jam 1 malam?”

“Tidak bisa kang!” Jawabnya tegas.



Dengan keberanian yang setengah-setengah, akhirnya kang Yanto ditemani lima lelaki lainnya bergegas ke tempat yang dituju. Nampak dari kejauhan, Pohon Mangga itu berbuah sangat lebat. 

Setelah memasuki pekarangan depan rumah pak Budiman, dan berlanjut menuju teras belakang, langkah mereka terhenti seketika. Sosok bayangan putih nampak jelas sedang duduk tertunduk di bawah Pohon Mangga tersebut. Bau kembang kamboja menyengat searoma malam yang semakin kelam. Wanita itu tersenyum pucat.



Kang Yanto dan beberapa lelaki lainnya hanya bisa terdiam. Berdiri kaku seperti seonggok batu.


“A….A….A…..Arrrruummmmm?”, pekik lirih terdengar dari kerongkongan suara kang Yanto yang nampak asat.


“Kang…..antarkan aku pulang?.”, suara Arum terdengar sambil mendesah, memenangakan ketegangan malam bersama lelaki yang sedang ketakutan.


Arum mendekat dengan cepat. Ia tak berjalan, bukan pula terbang. Menghilang. Yach, ia begitu cepat menghilang tepat di depan tatapan mata kang Yanto. Asap putih dibarengi hembusan angin turut menyusup ke raut mukanya. Dingin.



Warga Hulu Karam geger kembali. Terdengar kabar bahwa kuburan Arum ditemukan berlubang. Mayat Arum menghilang!




Ani Ramadhanie
Hening. 5 Maret 2011