Senin, 19 Desember 2011

Wanita Penunggu Pohon Mangga



gambar:terselubung.blogspot.com



Konon, wanita itu terlalu cantik untuk disebut sebagai seorang wanita. Banyak orang  menyebut dirinya adalah jelmaan putri raja. Keturunan darah biru. Bahkan cerita yang lebih menggemparkan yang sempat kuingat adalah ia sangat sempurna. Bentuk nyata penuh kharisma yang selalu dipuja kaum Adam. 


Rambutnya panjang terurai menyapu tanah. Senyumnya menggetarkan setiap degup jantung yang sudah enggan berirama. Aroma tubuhnya bukan hanya wangi. Tetapi mungkin inilah aroma surga yang banyak diimpikan setiap insan. Wajahnya? tidak usah diragukan lagi, air liur lelakipun akan terasa sangat sayang tertelan jika ia memunculkan keberadaanya.

Arum!!!


Mereka menyebutnya. Ia mulai membuat heboh kembali di kampung kami. Setelah ia muncul kembali --semenjak hari ke-tujuh kematiannya yang misterius.

 Warga Hulu Karam, tak lagi setenang dulu. Keheningan beberapa puluh tahun yang lalu, seakan terpoles oleh kanvas berwarna hitam yang terus memburu dinding pelabuhan. Kembang desa itu tak lagi ada. Ia hilang dari tatapan, tapi tak lenyap di peradaban. Tak ada yang tahu kejadian malam itu. Malam dimana terjadi pembantaian oleh orang misterius yang menghabiskan seluruh keluarganya . Tak ada jerit.  Tak ada tangis--juga ratapan yang terdengar.



Tanpa ampun, mereka membuat semuanya sama sekali tak tersisa. Pak Budiman beserta istri terkapar di kamarnya dengan beberapa puluh tusukan pisau yang menganga. Darah segar mengucur, bak kran air yang rusak termakan karat. 

Arum, kembang desa itu tak kalah tragis dari kondisi orang tuanya. Ia ditemukan tergantung dengan lidah yang menjulur dari dalam kamarnya. Bajunya terkoyak oleh jamahan tangan setan yang tak kenal tata krama. Tak ada yang tahu ulah siapa itu?


Misteri!!!
Semua orang diam penuh tanya. Misteri terbungkus trauma yang menjulurkan cerita baru ke dalam sebuah babak kehidupan berikutnya.



Brakkkk!!!!!!!

Tok..tok..tok….!!!

To…tok…tok…!!!

Tok…tok…tok…!!!



Pintu kayu rumahku seperti ada yang mengetuknya. Semakin cepat ia mengetuknnya, dan semakin cepat lagi. Guncangan dari badan yang sembari ia sandarkan pada daun pintu tua itu, membuat bunyi engsel yang sudah tak lagi perawan terdengar riuh merajai sepinya malam.


“Mbak…buka pintunya!”

“Mbak…c-e-p-e-t mbak!”

Suara Aryani, adik lelakiku terdengar parau. Nafasnya terdengar jelas saling berburu diantara buliran keringat yang membuat basah kaosnya. Ia nampak pucat sekali.

“Ada apa Yan?”, teriakku jengkel sembari menutup pintu.

Hhhhh…hhhh…hhhhh….


Nampak ia berusaha mengatur kembali nafasnya yang tak lagi normal terkendali. Segelas air hangat dari tanganku setidaknya membuatnya kembali mereda ketengangan.

“Mbak..mbak.., eh…a-k-u nggak mimpi kan?”


Iyan bertanya kepadaku sembari menampar sendiri mukanya. Sekali, di pipi kanan. Dua kali di pipi kiri. Ia nampak aneh sekali. Ia diburu oleh rasa takut yang sangat tak terkendali. Dan ini, baru kulihat pertama kali pada dirinya.



Tuturnya-- ketika ia melintasi gang enam lima, Iyan mengaku kalau bahunya dipukul dari arah belakang. Ketika ia menoleh, tak ada satupun orang yang sedang mengikutinya. Dibiarkan saja, namun hal yang sama kembali terulang. Pukulan di bahunnya terasa lebih keras dari sebelumnya. Bau anyir seketika menyengat mengikuti tarian angin malam yang menyusup di dua sela pernafasannya. Kaki yang ia andalkan untuk berlaripun, terasa terpatri oleh lekatan lem yang menempel pada dasaran tanah pasir yang sedang ia pijak.
***




Penduduk Hulu Karam percaya tempat tinggal para hantu disebut tempat angker atau sanget. Dan tak ubahnya, Masjid adalah tempat yang dianggap bersih serta suci. Adanya pantangan atau pamali masih dipercaya dan diyakini dengan taat. Terutama menyangkut kehidupan dan aktifitas sehari-harinya. 


Walaupun bukan merupakan peraturan tertulis, namun penduduk Hulu Karam tetap menjungjung tinggi tradisi kampung ini. Pada hari Suro,daerah yang sudah dianggap didiami para hantu tersebut, selalu tak lupa untuk tetap di beri sesajen. 


Hal ini menurun dari generasi ke generasi yang tak tahu siapa pemulanya. Sementara, kondisi Iyan kembali normal. Ia nampak biasa saja, seperti semula. Namun, petang itu. Kamis Legi jam sembilan malam, setelah Iyan masuk rumah dan memarkir sepeda motornya-- ia duduk terdiam di kursi rotan. Tak orang yang ia sapa seperti biasa kepulangannya. Tiba-tiba ia menjerit histeris sambil berkata,

”Jangan ganggu aku. Pergi…!”

“P-e-r-g-iiiiiiiiiiiiiiii…!”

Nafasnya naik turun, Iyan terpental ke tanah.

Hhhhhh…hhhhhhhhhh…hhhhh….

“T-o-l-o-n-ggggggg….!”, teriakku.



Semua tetangga berdatang malam itu. Rumah kami ramai seperti kondangan pada gelar hajatan. Iyan tersungkur dengan badan yang semakin kaku. Empat lelaki dewasa berusaha mengitari tubuhnya, agar ia tak terlepas dan berusaha lari. Iyan menggerang dengan cerocos mulut semakin tak menentu.



 Matanya tertutup rapat, tetapi masih sama dengan tenaga yang tak kalah kuat. Sesekali saja mata itu terbuka, ia langsung memelototi siapa saja yang berada di sekitarnya. Ketakutanku tak dapat aku sembunyikan. Memaksaku untuk bersembunyi dari tempat dimana Iyan masih terkapar. Dari bibirnya, ia menerocos lagi tak karuan. Suaranya berubah seketika, mimik manja tersungut dari arah senyumnya.


P-e-r-e-m-p-u-a-n? 

Haaaaaaa…?


Semua orang bertanya-tanya, siapa perempuan yang merasuki tubuh Iyan saat ini?

“Sakit….sakit…”

“Antarkan aku pulang…!”

Hhhh…hhhh…hhhh…

“Aku ingin pulang…!”, Iyan tetap mengomel tak tentu arah dengan suara perempuan yang terdengar.
Dadaku berdesir halus, sangat halus bahkan dari halus kelembutan sutera. Aku takut, semakin takut.

“Duh…Gusti?”
***



Dengan siaga, ternyata kang Yanto, tetangga kami telah memanggil seorang ustadz dari desa sebelah. Dengan dilantunkan ayat suci, tubuh Iyan mengoyak lebih dasyat di genggaman para lelaki disekitarnya. Matanya terlihat membuka lebih lebar dari sebelumnya. Nafasnya saling menguber, berburu. Tubuhnya nampak lunglai.


“Hahhhh..pergi kau!”

“Panas…!”

“Panas…!”

“Panas…!”


“Kalau tidak, akan kupanggilkan semua teman-temanku!”

“Arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhhhhh……………..!!!”

***




Dari cerita ustadz itu, dapat terungkap bahwa makhluk halus itu berasal dari Pohon Mangga yang berada di pekarangan belakang teras rumah Pak Budiman. Dan disarankan agar Pohon Mangga itu segera ditebang, tanpa menundanya.


“Harus sekarang Pak Ustad?”, tanya kang Yanto.

“Iya kang.”

“Gak bisa besok ya Pak?, kan sudah jam 1 malam?”

“Tidak bisa kang!” Jawabnya tegas.



Dengan keberanian yang setengah-setengah, akhirnya kang Yanto ditemani lima lelaki lainnya bergegas ke tempat yang dituju. Nampak dari kejauhan, Pohon Mangga itu berbuah sangat lebat. 

Setelah memasuki pekarangan depan rumah pak Budiman, dan berlanjut menuju teras belakang, langkah mereka terhenti seketika. Sosok bayangan putih nampak jelas sedang duduk tertunduk di bawah Pohon Mangga tersebut. Bau kembang kamboja menyengat searoma malam yang semakin kelam. Wanita itu tersenyum pucat.



Kang Yanto dan beberapa lelaki lainnya hanya bisa terdiam. Berdiri kaku seperti seonggok batu.


“A….A….A…..Arrrruummmmm?”, pekik lirih terdengar dari kerongkongan suara kang Yanto yang nampak asat.


“Kang…..antarkan aku pulang?.”, suara Arum terdengar sambil mendesah, memenangakan ketegangan malam bersama lelaki yang sedang ketakutan.


Arum mendekat dengan cepat. Ia tak berjalan, bukan pula terbang. Menghilang. Yach, ia begitu cepat menghilang tepat di depan tatapan mata kang Yanto. Asap putih dibarengi hembusan angin turut menyusup ke raut mukanya. Dingin.



Warga Hulu Karam geger kembali. Terdengar kabar bahwa kuburan Arum ditemukan berlubang. Mayat Arum menghilang!




Ani Ramadhanie
Hening. 5 Maret 2011

Rabu, 14 Desember 2011

Kamini Namanya


1313732794643343727
gambar: kegiatan menjala ikan warga pesisir selatan/danusblog.com




Sepertinya matahari masih terlalu lama bertemu pagi. Azan subuh pun belum nampak terdengar dari langgar yang berjarak hanya lima belas langkah dari rumahnya. Suara karet dari kerekan sumur terdengar mendesir ketika tergesek oleh besi yang sudah termakan usia. Airnya gemericik memecah hening.  Mengalahkan dengkuran para manusia yang selalu larut oleh gunungan mimpi. Ia menariknya pelan, takut kalau anaknya terbangun oleh suara bising di pagi yang masih buta.


 Ember yang bibirnya sudah terbelah itu tidak bisa penuh lagi, terisi oleh air yang ditimbanya. Ia mengulanginya lagi. Lagi dan lagi. Menimba air, memenuhi jedhingan agar anaknya dapat mandi sebelum pergi ke sekolah. Musim kemarau semakin meranggas. Menjadikan sumurnya menjadi tidak dangkal lagi. Membuat tarikan karet yang melilit pangkalan besi tua dan terkait oleh ember itu,  harus ia lelerkan lebih panjang lagi ke dasaran sumur. Lumut-lumut di bibir sumur juga semakin mengering. Sepertinya ia sudah enggan hidup lagi di sana. Bak air sudah terisi penuh. Perasaan sumringah menyelimuti hatinya.



Kemudian kakinya menuju arah dapur. Di tentengnya seonggok blarak kering yang ia pungut dari alas mbah Karto kemaren sore. Api mulai menyala-nyala. Berasnya sudah selesai di cuci. Gorengan ikan asin serta krupuk sudah mendahului di atas meja kayu tua.


Le…bangun nak, sholat subuh dulu.” Perintahnya kepada anaknya yang masih terlelap.

Mengambil air wudhu dilakukan bergantian dengan anak semata wayangnya setelah suaminya berpulang. Suaminya jatuh ke dasar laut.  Dan tak di ketemukan sampai sekarang ketika menjala ikan di musim padhang rembulan. 

Seperti biasanya.  Ia memulai untuk menuangkan air wudhu yang sudah terisi di sebuah kendi yang berwarna tanah itu kepada anaknya. Begitu pula yang dilakukan oleh anaknya. Dulu sempat ia ingin membangun tempat untuk berwudhu di dekat jedhing.  Tetapi kepergian suaminya terlalu cepat sehingga rencana itu pun terlewat.

Sehelai kain ia potong memanjang dari jarik yang sudah tak terpakai. Tak lupa caping bertali yang sudah berganti warna itu ia tenteng di bahunya. Sarung tangan? Ah seharusnya ia juga memilikinya. Agar tangannya tak merasakan panas bahkan sampai kulitnya mengelupas ketika menarik seutas tambang di rutinitasnya.

Pagi setelah anaknya pergi ke sekolah, ia berangkat juga. Membelah jalan pintas dari belakang rumahnya melewati jembatan oleng menuju arah bibir pantai. Sudah berkumpul beberapa wanita paruh baya di sana. Ada sepuluh wanita dan dua lelaki saja. Ia kenakan potongan jarik sebagai cadar di wajahnya. Ia kenakan caping sebagai peneduh dari ganasnya terik surya. Mungkin pekerjaan ini sudah purba. Tetapi ia tetap setia. 


Hari itu sudah berjalan tiga jam dari waktu di mana ia memulai kerjanya. Ia berada di barisan paling depan dari ke-sebelas penarik tali tambang. Peluhnya semakin terlihat. Tetes-tetes keringat turut mengucur di dahinya yang tertutup oleh teduh caping. Punggungnya mulai basah oleh keringat yang terserap dari baju yang menempel ketat. 


Di sisi kanan lalu berpindah di sisi kiri ia berbaur dengan mereka. Menarik seutas tali tambang yang berujung dengan sebuah jala besar yang berjarak ratusan kilo meter dari tengah lautan agar mencapai daratan.Menjaga keseimbangan dari benaman pasir pantai yang kadang tak bisa arif pada pelakon kehidupan yang hanya ingin mencari pangan.



Gurauan saling mereka umpan. Berharap kepenatan segera tersisihkan. Bergumam rapalan doa dalam hati Mengharap panen ikan akan melimpah. Kamini, sesekali hatinya kaku dalam diam. Di antara dilema laut yang telah mencuri ruh suaminya. Dan juga menelan jasad lelakinya. Tetapi laut juga lah yang telah memberinya makan selama ini.


Sementara lamat-lamat azan dzuhur sudah berkumandang. Para pedagang sudah menunggu di sisi kanan-kirinya. Berharap pula panen ikan akan melimpah. Agar pundi-pundi rupiah bisa mereka raup dari laba penjualan yang semakin bertambah.


Enam jam sudah tali tambang mereka tarik. Kulit yang mengapal bahkan terkelupas oleh besitan tali menjadi keseharian mereka. Jala besar yang mereka tarik sudah berada di tepian. Tidak seperti yang mereka harapkan. Ikan yang di peroleh dari jala-jala itu tak sebanding dengan waktu, tenaga yang telah mereka keluarkan. Upah yang mereka peroleh pun tak banyak seperti yang mereka inginkan. Dua puluh ribu rupiah itu saja. Wanita itu pulang dengan sumringah.


“Mak…Udin perlu beli sepatu baru!” Sembari menyodorkan sepatunya yang sudah robek di bagian depan serta samping. Lem yang menempelkan bagian bawahnya pun sudah hampir terlepas.

“Bukankah masih bisa di pakai to le…” Ia menimpali anaknya.

“Udin malu mak!” Wajahnya nampak terkulai lesu ketika mendapat jawaban dari emakya yang nampak tak bisa membelikan sepatu baru untuknya.
***




Kamini dan Udin berjalan dengan rutinitas. Satu hari, dua hari dan seterusnya. Sementara musim panen ikan di musim ini masih berjalan, meskipun penghasilan tidak pasti di dapatkan.


“Din…Udin.” Kamini memanggil-manggil anaknya sepulang ia menjala di bibir pantai. 


Meski bukan uang yang ia bawa pulang, tetapi ada sepuluh biji tangkapan sotong yang ia bawa pulang. Ia gantikan upah kerjanya dengan sotong kesukaan Udin. Kamini terus mencari Udin. Berharap hati Udin akan sumringah ketika melihat emaknya pulang dengan makanan yang ia senangi. Tetapi Kamini sudah berteriak semenjak dari luar dan mencari seisi rumah, tak ia ketemukan si Udin. Terlihat sepatu Udin tergeletak di pojok dapur dengan lumuran warna yang jelas, hitam!


Kamini memungut sepatu itu. Menciumnya, penasaran gerangan apa yang menghitam di sepatu anaknya itu. Hah, bukankah ini bau cat kayu? Kamini terkaget-kaget kenapa cat kayu bisa melumuri sepatu anaknya. Ia kembali meletakkan sepatu pada tempat semula, ketika terdengar gemericik air dari arah jedhing. Kamini mendekati Udin yang tengah sibuk dengan sebotol thinner untuk membersihkan kakinya.

“Udin jahit sepatunya mak!”

“ Di tempat benang adanya cuma warna putih. Udin lumuri cat warna hitam agar Udin tidak di suruh berdiri setelah upacara bendera mak….!” Dengan polos Udin menjelaskan ke emaknya.

Kamini terdiam, kaku bagai bongkahan batu yang mengeras. Hati Kamini hancur. Darahnya mendidih seketika. Melihat tingkah polah anaknya yang menyayat-nyayat hatinya. Ia memeluk Udin. Menangis hebat. Merasakan iba yang dasyat akan nasib yang Udin terima. Merasakan naluri keibuannya memberontak kuat ketika ia belum bisa membuat bahagia anaknya.
***



Pagi ini Kamini bangun lebih pagi. Jauh lebih pagi dari bangunnya ayam pejantan yang biasa berkokok. Semuanya dilakukan agar Ia dapat berburu rupiah yang lebih banyak lagi, dan lagi. Menyapu daun cengkeh di alas mbah Karso menjadikan waktunya lebih banyak dihabiskan diluar rumah. Menjualnya ke tangan penyuling minyak di dekat kantor kelurahan.


 Berlanjut dengan caping di kepalanya, ia kembali berdiri di antara barisan para nelayan pemburu ikan. Meskipun hampir telat, ia masih mendapatkan tempat. Dadanya kembali berdesir mengingat laut dan keganasannya pada hidupnya.


 Laut yang telah merenggut jasad suaminya. Laut yang sanggup mengejawantahkan kecintaan pada anak semata wayangnya. Ya, demi Udin apapun akan ia lakukan. Tangannya bukan kapalan lagi, tetapi lapisan kulitnya mulai memerah, terkelupas karena kerasnya tali yang beradu oleh tarikan jala yang terhempas oleh ombak.


Kamini berharap, dari tangannya ia segera bisa membelikan sepatu baru buat Udin. Berangkat pagi, pulang siang, lalu berangkat lagi sampai malam. Kamini hanya mengerti jikabekerja adalah pengabdian pada Gusti Agung. Menjalankan titah tanpa sempat berfikir untuk menghancurkan yang lain demi kejayaan diri sendiri atau keluarganya. 


Seperti yang telah mahfum terjadi di negeri tercinta. Seperti yang telah banyak di contohkan oleh pejabat, petinggi negeri ini. Kamini mengerti bergelut dengan tanpa harus menyikut. Kamini tidak seperti kebanyakan mereka yang sering melarikan masalah dengan diam. Tetapi tak di nanya diam-diam malah menebalkan muka.



 Banyak orang yang menganggap semuanya baik-baik saja. Ibarat kata, mereka terlalu sering bercermin kepada diri sendiri. Melihat diri sendiri aman-aman saja. Tetapi Kamini tidak demikian adanya. Sama seperti arti dari nama yang ia sandang, ia tetap menjadi wanita penuh kasih sayang untuk keluarga.  Untuk Udin anak semata wayangnya.



Note:

Jedhing: Kamar mandi
Alas : Hutan
Langgar: Masjid kecil tempat shalat
Kendi : Tempat air bercerat ( dibuat dari tanah)


Ani Ramadhanie-Newterritories
Hening. 19 Agustus 2011-01.44 PM

Selasa, 13 Desember 2011

Saya Ngefans Kepadamu


1323370835315596551
gambar:galleryprojecthk.com



Sudah saya yakinkan  semenjak awal.  Perasaan saya tidak akan pernah berubah kepadamu. Semenjak  saya berani mengenalmu. Mengenal namamu. Nama panggilanmu. Di mana rumahmu. Mencatat nomor hapemu.

Memang saya  yang berani menyapamu terlebih dahulu. Ya, memang saya yang memulainya. Menambahkan kamu sebagai teman saya di facebook.  Mengirimkan inboxucapan terimakasih untuk pertemanan ini. Dan seharusnya itu tidak perlu saya lakukan. Tapi saya memang sengaja melakukannya padamu.

Saya lebih aktif menyapamu. Menyukai statusmu. Membalas komentarmu. Mencuri perhatianmu. Mengirimkan foto-foto pribadi  saya ke inbox akunmu. Dan pelan-pelan kamu termakan umpan. Di hari kemudian, kamu yang justeru lebih aktif menyapa.

Saya utarakan perasaan saya kepadamu. Saya sangat senang membaca setiap goresan kata-katamu, di novel keduamu. Saya mengingatkan kamu untuk kembali ke masa itu. Ketika saya ikut antri bersama  ratusan barisan gadis-gadis ABG untuk  mendapatkan tanda tanganmu. Terik matahari nggak jadi masalah buat saya. Karena saya memang akan melakukan apa saja untuk dapat tanda tanganmu. Kemudian kamu akan menulis nama saya di lembar pertama halaman novel keduamu.  Disertai tanda tangamu.


Berlanjut pada minggu ke empat perkenalan saya dan kamu. Jam satu  dini hari  saya menerima inbox darimu. Saya kemudian membalasnya. Kamu bahagia. Kamu utarakan perasaanmu. Dan saya juga bahagia. Saya utarakan perasaan saya.Saya nggak pernah janji apapun kepadamu.  Tentang apapun.  Ya, saya memang nggak pernah muluk-muluk kepadamu.


Hari terus berganti. Kembali malam berburu pagi.  Kemudian hitungan bulan menggenapi. Saya semakin dekat denganmu. Begitu juga kamu. Saya mulai banyak tahu tentangmu. Begitu juga kamu semakin banyak tahu tentang saya.  Saya mulai berani curhat padamu. Begitu juga kamu. Bahkan saya rasa, kamu lebih aktif untuk mengutarakan perasaanmu. Dan saya hanya menjadi pendengar terbaik untukmu.


Hari kemudian, untuk pertama kalinya saya berani memencet nomor itu. Naik turun mencari namamu. Seakan jari-jemari saya  berhenti bergetar untuk mencari namamu.  Sudah beberapa lama, nyatanya nggak ketemu juga. Sengaja saya merubah namamu menjadi nama seorang wanita. Dan saya rasa kamu tidak perlu tahu apa alasannya.



Saya mulai dengan salam. Kemudian kamu menjawab salam. Saya hanya bisa berdehem saja. Menyengajakan tenggorokan menjadi kerontang. Dan kamu juga kebingungan. Saya canggung. Dan kamu sungkan.  Sesaat kemudian sebelum saya menutup sambungan telfon, terdengar suaramu dengan jelas. Kamu menyebut nama saya. Kamu utarakan perasaan yang kamu pendam. Saya bahagia mendengarnya.


Kemudian mendadak hape saya kehabisan pulsa. Kamu mengirim inbox lagi ke facebook  saya. Melanjutkan perbincangan yang terputus jaringan. Kamu bilang kamu bahagia karena saya perhatian. Dan saya juga bahagia mendengarkan.


Saya memang perhatian. Saya memang romantis. Dan saya hanya ingin bahagia.  Dan ini adalah cara saya untuk mendapatkan kebahagiaan.  Saya kesepian. Dan ternyata kamu juga kesepian. Saya hanya ngefans kepadamu. Tapi saya nggak  tahu bagaimana hatimu?  Perasaan saya nggak   akan pernah berubah kepadamu. Untuk malam yang telah  lalu. Malam ini. Dan malam-malam berikutnya. Bahwa saya  ngefans kepadamu. Tidak untuk wanita yang tidur di sebelahmu.


Ani Ramadhanie
Hening-9 Desember 2011

Senin, 12 Desember 2011

Juminten Laela


Juminten Laela.  Parasnya jelita. Kulitnya berbeda.  Perawakannya nyaris sempurna. Juminten Laela tak serupa anak dara lainnya. Juminten Laela. Rumahnya, bersebelah dengan musala. Kelahirannya, dianggap sebagai   malapetaka.  Juminten Laela. Bukan terlahir dari seorang janda.  Tangisnya memekik di kala subuh belum tiba. Mengejutkan sanak saudara. Juga berbagai pasang mata.


Di kampung Bundaran, Juminten dianggap pembawa kesengsaraan. Merusak martabat yang telah lama dirawat. Dilaknat oleh generasi pembawa riwayat.


Muryatin, tak pernah mengenakan  baju pengantin.  Tak ada pernyataan sebagai pengganti ketentuan ikatan.  Ibu-ibu dan perawan, tak sempat mengantar rantangan.  Tak ada  jenang ketan,  sebagai  rembug lamaran. Upacara peningsetan sebagai tanda hari baik pernikahan, terkesan diabaikan. Itupun tanpa perencanaan.


Tak ada janur kuning. Apalagi  dua janjang cengkir gading.  Begitu pula wasiat Kademin, bapak Muryatin. Upacara  siraman adalah lambang kesucian. Ditangguhkan, pada batas angan.  Air dari merang,  dibakar  sebagai pengganti sampo di dalam jembangan. Sebatas persiapan, tanpa pungkasan. Selembar jarik lurik  warisan dari mbah Carik,  itupun  tak sempat dilirik.  Di malam midodareni, sepasang kendi  tak lagi berisi  air suci.  Sejodoh  kembarmayang,  tak lagi berlanjut adat balangan. Pelataran, tak berubah menjadi pelaminan. Dekorasi hanya mengudang simpati.


Beberapa perempuan beradu pandangan.  Berkerumun seperti serangga berbulu, berebut mencari madu.  Ayam-ayam sabungan berlarian seperti datangnya isyarat kematian.  Di pagi buta,  tak seperti  datangnya  hari biasa. Jerit Muryatin memecah relung batin. Membuat siapa saja terperanjat terjaga.


Muryatin, anak Kademin. Perutnya membesar dikala terbangun dari mimpi, hendak ke kamar mandi. Sakitnya  luar biasa, seketika mendera. Muryatin, anak Kademin. Semakin meraung. Sekonyong-konyong membuat Kademin bingung. Mengalahkan riuhnya besan, begitu pula  senandung azan.


Halaman itu sudah cukup sebagai ungkapan kedukaan. Kembang cempaka tak lagi harum baunya.  Apa hendak dikata, segala terjadi tak seperti biasanya.  Membayangkan di kala Jainem masih ada.  Seorang perempuan, berusia empat puluhan. Tak pernah sekalipun mengenakan pakaian mewah. Berbandar hidup mengolah  basah tanah. Tak pernah sekalipun ia berfikir jikalau sawah adalah musibah. Seorang perempuan berusia empat puluhan.  Tak pernah merasakan enaknya jadi karyawan. Paling banter menjadi buruh harian. Juga mingguan. Tetapi ia tak mudah berubah pendirian.


Jainem selalu berfikir kalem. Terbiasa bangun pagi. Terkadang juga dini hari. Menyandarkan bakti menjumpai  Sang Gusti.  Lebih pagi dari  mentari  yang masih enggan menampakkan diri. Lekas-lekas kemudian mandi. Menyiapkan kopi. Lalu menanak nasi.  Tetapi itu dulu. Sebelum ia berlalu.  Sebelum anaknya perawan. Sebelum rambutnya dirayapi uban.


Bukan maksud menyesali. Jikalau sekarang  Kademin merasa sendiri. Jainem yang selalu membuat fikir adem. Sederhana baik budinya.  Selalu memuja doa untuk keluarga.  Nyawanya tak lagi tersemat di raga. Jainem  tak lagi bangun ketika subuh belum tiba. Pun setelah subuh mereda. Meninggalkan duka. Luka yang datang tiba-tiba. Bahwa kematian tak bisa disangka-sangka. Kapan dikira-kira. Di mana ia akan bermuara?



Setelahnya, Kademin tak lagi banyak bicara. Bahkan, sekedar menjelaskan ia seakan sungkan. Mbok Bidun, lebih tahu karena ia yang didaulat menjadi  seorang dukun.  Menjadi saksi, sekiranya telah terlahir bayi yang tak pernah diingini.  Selanjutnya, sanak saudara enggan menyapa.  Anak-anak dara serta para wanita menyerak berita. Menjadikan siapa saja tempat bertanya. Mengulas nestapa pada keluarga yang dianggap membawa bencana.


Waktu berlalu.  Hitungan hari  berganti bulan terlampaui. Lewatnya bilangan tahun bukan berarti ingatan menghilang di fikiran.  Juminten Laela. Masih meninggalkan sesak di dada. Bahkan ketika usianya tak lagi remaja. Kemudian ia diharamkan untuk berumah tangga oleh warga di kampungnya. Seakan Tuhan tak ada lagi di dunia!


Dan ini bukan lagi ketika sekolah menolaknya. Ketika teman sejawatnya dilarang mendekatinya. Ia dianggap bukan manusia. Membiarkannya hanya merasakan belas iba. Tak ada yang berani mengeluarkan akta kelahirannya. Bertanya siapa bapaknya? Itu yang selalu menjadi alasannya.


Juminten Laela pernah diusir dari kampungnya.  Bahkan sempat  hendak dibakar massa. Ketika pak  Jumprit bermimpi jikalau kampungnya akan terserang wabah penyakit. Tak luput, Juminten disangkutkan sebagai pembuat kalut.  Pembawa  fikiran kusut. Penyebab  kampung menjadi carut marut.



Kampung Bundaran masih memegang kuat kesakralan. Mbah Tukijan, masih didaulat sebagai sesepuh yang dituakan. Segala peraturan seakan ditiadakan sebelum mendapat wejangan mbah Tukijan. Kehormatan  diberikan warga Bundaran kepada mbah Tukijan karena kenyangnya pengalaman. Terurut riwayat, jikalau sejarah berdirinya Bundaran adalah berhubungan dengan salah satu kerabat yang di daulat. Keturunan mbah Tukijan sebagai salah satu penjulur riwayat.



Tetapi, terurutnya riwayat belum tentu akan menyamakan lakon pembawa riwayat. Mbah Tukijan pula yang selama ini  menyiarkan tuduhan.  Mengawali sangkaan. Menghimpun dugaan. Tentang datangnya paceklik, beserta keringnya sumur di Bundaran selang beberapa bulan. Juminten Laela kembali menjadi bahan umpatan. Kelahirannya kembali ribut dibisingkan. Itupun setelah dua puluh tahunan terlewatkan. Seakan Juminten adalah kotoran yang diberatkan. Hingga datang suatu pekan. Pada waktu setelah matahari  terbenam. Dalam. Pada suatu ritual selamatan. Dengan tangis yang sesenggukan. Ia mengadukan beban kepada Tuhan.



“Bukankah aku tidak meminta untuk dilahirkan? Dan seandainya aku terlahir dari rahim isteri mereka, atau Ibu mereka, atau saudara perempuan mereka. Apa yang hendak mereka kata. Tuhan?” Juminten Laela, mengulang doa…



Ani Ramdhan
Hening.Awal November.11 -23 November 2011
Newterritories.2.11 am

Sabtu, 10 Desember 2011

Jarak


Kebersamaan di antara kita bukan saja dalam hitungan jemari, kan? Atau lembaran kalender yang memburu hari. Mencukupi bulan. Selanjutnya menggenapi bilangan. Lantas,  menjadikannya  tahun sebagai keterangan himpunan.  Hitungan jemari yang aku genapkan dan aku gandakan pun tak akan cukup untuk menghitungnya. Perjalanan kita  masih panjang, kan?  Dan selanjutnya, kita akan lebih banyak lagi mengingat tentang waktu yang terlintas dalam pertemuan-pertemuan singkat kita.


Coba dech, kita mulai mengingat? Kapan terakhir kali kamu bilang sayang padaku? Atau kapan terakhir kali kita nonton berdua di Bioskop? Oh, iya satu lagi. Kapan terakhir kali kita pergi berdua malam mingguan?


“Ah, kamu terlalu melankolis!”

“Tapi realistis, kan?”

“Iya,iya,iya. Jangan kuatir. Pokoknya, kamu akan tetap di hatiku. Senang?”

“Yeee, akhirannya kok gitu!”

“Nah, apanya lagi?”

“Masa, akhirannya menggantung gitu!”

“Idiiiih, sewot. Hahaha, pokoknya aku cinta kamu. Gak pakai koma, apalagi nambahin titik. Yang lain suruh nge- kost aja, ya yang! Ok?”

“Aku sibuk, yang. Nanti ngobrol lagi ya?”

Glek!

Tut. Tut.tut.



Dua puluh detik berlalu. Gagang telefon itu masih melekat di daun telinga kananku. Sepertinya, baru saja aku mulai menekan tombol namamu. Mendengar nada sambung lagu kesukaaanku.  Menata perasaanku.  Mengambil nafas dalam, mengatur gaya bicaraku.  Menyiapkan topik terhangat untuk dibincangkan.
Tapi semua hanya terlintas, cepat.  Seperti kedipan mata yang mengerjap. Tertutupi oleh bulu-bulu mata yang lebat. Tak ada perdebatan  tentang dialog kerinduan. Tentang datangnya pagimu. Tentang tenggelamnya malammu. Atau, ke mana menghilangnya kepulan-kepulan asap di bibirmu yang berwarna gelap?


“Di biasakan saja ya, yang?”

“Nanti  kita pasti  bertemu, kok!”

Dibiasakan?

Ya, dibiasakan!

Dibiasakan mungkin memang bukanlah sebuah jawaban. Tetapi belajar membiasakan mungkin juga  dapat mengurangi beban.  Tentang kekhawatiran. Keresahan. Keingintahuan.  Kegundahan. Kekecewaan. Atau sekedar pesan yang tak sempat tersampaikan.

Sama saja dengan menangis bukan, yang? Bukankah menangis juga dapat mengurangi beban? Ah, tidak dong yang! Menangis itu tidak perlu dibiasakan. Tapi menangis itu erat  hubungannya dengan Tuhan. Ha, Tuhan? Kok bawa-bawa Tuhan sih?

Coba dech, kamu bisa gak membiasakan diri setiap pagi menangis? Ah, ogah ah. Aneh kamu! Masa membiasakan, kok menangis?
Nah, benar kan apa yang kuutarakan? Menangis itu bahasa yang tidak mengenal aksara, yang!Menangis itu erat hubungannya dengan perasaan. Tidak melulu dengan kesedihan kok, yang!Kadang, juga sebagai bentuk kebahagiaan. Menangis itu adalah rasa tak terwakilkan,yang!


“Oh iya, yang! Aku sibuk. Email dari atasan gedor-gedor terus tuh!”

Glek!
Tut.tut.tut.


Senyumku getir. Dadaku berdesir. Langit malam di purnama ini  gelap terlalu dini. Tidak ada percakapan perihal  sisi batin. Atau sekedar menyusun tanya  agar abjad-abjad  yang tertata di ruanganku tak  terlantar di belantara.  Dan kamu suka begitu!
1320423714733967008
gambar:google.com

Kamar.04011.11.22.30
Newterritories.