Rabu, 14 Desember 2011

Kamini Namanya


1313732794643343727
gambar: kegiatan menjala ikan warga pesisir selatan/danusblog.com




Sepertinya matahari masih terlalu lama bertemu pagi. Azan subuh pun belum nampak terdengar dari langgar yang berjarak hanya lima belas langkah dari rumahnya. Suara karet dari kerekan sumur terdengar mendesir ketika tergesek oleh besi yang sudah termakan usia. Airnya gemericik memecah hening.  Mengalahkan dengkuran para manusia yang selalu larut oleh gunungan mimpi. Ia menariknya pelan, takut kalau anaknya terbangun oleh suara bising di pagi yang masih buta.


 Ember yang bibirnya sudah terbelah itu tidak bisa penuh lagi, terisi oleh air yang ditimbanya. Ia mengulanginya lagi. Lagi dan lagi. Menimba air, memenuhi jedhingan agar anaknya dapat mandi sebelum pergi ke sekolah. Musim kemarau semakin meranggas. Menjadikan sumurnya menjadi tidak dangkal lagi. Membuat tarikan karet yang melilit pangkalan besi tua dan terkait oleh ember itu,  harus ia lelerkan lebih panjang lagi ke dasaran sumur. Lumut-lumut di bibir sumur juga semakin mengering. Sepertinya ia sudah enggan hidup lagi di sana. Bak air sudah terisi penuh. Perasaan sumringah menyelimuti hatinya.



Kemudian kakinya menuju arah dapur. Di tentengnya seonggok blarak kering yang ia pungut dari alas mbah Karto kemaren sore. Api mulai menyala-nyala. Berasnya sudah selesai di cuci. Gorengan ikan asin serta krupuk sudah mendahului di atas meja kayu tua.


Le…bangun nak, sholat subuh dulu.” Perintahnya kepada anaknya yang masih terlelap.

Mengambil air wudhu dilakukan bergantian dengan anak semata wayangnya setelah suaminya berpulang. Suaminya jatuh ke dasar laut.  Dan tak di ketemukan sampai sekarang ketika menjala ikan di musim padhang rembulan. 

Seperti biasanya.  Ia memulai untuk menuangkan air wudhu yang sudah terisi di sebuah kendi yang berwarna tanah itu kepada anaknya. Begitu pula yang dilakukan oleh anaknya. Dulu sempat ia ingin membangun tempat untuk berwudhu di dekat jedhing.  Tetapi kepergian suaminya terlalu cepat sehingga rencana itu pun terlewat.

Sehelai kain ia potong memanjang dari jarik yang sudah tak terpakai. Tak lupa caping bertali yang sudah berganti warna itu ia tenteng di bahunya. Sarung tangan? Ah seharusnya ia juga memilikinya. Agar tangannya tak merasakan panas bahkan sampai kulitnya mengelupas ketika menarik seutas tambang di rutinitasnya.

Pagi setelah anaknya pergi ke sekolah, ia berangkat juga. Membelah jalan pintas dari belakang rumahnya melewati jembatan oleng menuju arah bibir pantai. Sudah berkumpul beberapa wanita paruh baya di sana. Ada sepuluh wanita dan dua lelaki saja. Ia kenakan potongan jarik sebagai cadar di wajahnya. Ia kenakan caping sebagai peneduh dari ganasnya terik surya. Mungkin pekerjaan ini sudah purba. Tetapi ia tetap setia. 


Hari itu sudah berjalan tiga jam dari waktu di mana ia memulai kerjanya. Ia berada di barisan paling depan dari ke-sebelas penarik tali tambang. Peluhnya semakin terlihat. Tetes-tetes keringat turut mengucur di dahinya yang tertutup oleh teduh caping. Punggungnya mulai basah oleh keringat yang terserap dari baju yang menempel ketat. 


Di sisi kanan lalu berpindah di sisi kiri ia berbaur dengan mereka. Menarik seutas tali tambang yang berujung dengan sebuah jala besar yang berjarak ratusan kilo meter dari tengah lautan agar mencapai daratan.Menjaga keseimbangan dari benaman pasir pantai yang kadang tak bisa arif pada pelakon kehidupan yang hanya ingin mencari pangan.



Gurauan saling mereka umpan. Berharap kepenatan segera tersisihkan. Bergumam rapalan doa dalam hati Mengharap panen ikan akan melimpah. Kamini, sesekali hatinya kaku dalam diam. Di antara dilema laut yang telah mencuri ruh suaminya. Dan juga menelan jasad lelakinya. Tetapi laut juga lah yang telah memberinya makan selama ini.


Sementara lamat-lamat azan dzuhur sudah berkumandang. Para pedagang sudah menunggu di sisi kanan-kirinya. Berharap pula panen ikan akan melimpah. Agar pundi-pundi rupiah bisa mereka raup dari laba penjualan yang semakin bertambah.


Enam jam sudah tali tambang mereka tarik. Kulit yang mengapal bahkan terkelupas oleh besitan tali menjadi keseharian mereka. Jala besar yang mereka tarik sudah berada di tepian. Tidak seperti yang mereka harapkan. Ikan yang di peroleh dari jala-jala itu tak sebanding dengan waktu, tenaga yang telah mereka keluarkan. Upah yang mereka peroleh pun tak banyak seperti yang mereka inginkan. Dua puluh ribu rupiah itu saja. Wanita itu pulang dengan sumringah.


“Mak…Udin perlu beli sepatu baru!” Sembari menyodorkan sepatunya yang sudah robek di bagian depan serta samping. Lem yang menempelkan bagian bawahnya pun sudah hampir terlepas.

“Bukankah masih bisa di pakai to le…” Ia menimpali anaknya.

“Udin malu mak!” Wajahnya nampak terkulai lesu ketika mendapat jawaban dari emakya yang nampak tak bisa membelikan sepatu baru untuknya.
***




Kamini dan Udin berjalan dengan rutinitas. Satu hari, dua hari dan seterusnya. Sementara musim panen ikan di musim ini masih berjalan, meskipun penghasilan tidak pasti di dapatkan.


“Din…Udin.” Kamini memanggil-manggil anaknya sepulang ia menjala di bibir pantai. 


Meski bukan uang yang ia bawa pulang, tetapi ada sepuluh biji tangkapan sotong yang ia bawa pulang. Ia gantikan upah kerjanya dengan sotong kesukaan Udin. Kamini terus mencari Udin. Berharap hati Udin akan sumringah ketika melihat emaknya pulang dengan makanan yang ia senangi. Tetapi Kamini sudah berteriak semenjak dari luar dan mencari seisi rumah, tak ia ketemukan si Udin. Terlihat sepatu Udin tergeletak di pojok dapur dengan lumuran warna yang jelas, hitam!


Kamini memungut sepatu itu. Menciumnya, penasaran gerangan apa yang menghitam di sepatu anaknya itu. Hah, bukankah ini bau cat kayu? Kamini terkaget-kaget kenapa cat kayu bisa melumuri sepatu anaknya. Ia kembali meletakkan sepatu pada tempat semula, ketika terdengar gemericik air dari arah jedhing. Kamini mendekati Udin yang tengah sibuk dengan sebotol thinner untuk membersihkan kakinya.

“Udin jahit sepatunya mak!”

“ Di tempat benang adanya cuma warna putih. Udin lumuri cat warna hitam agar Udin tidak di suruh berdiri setelah upacara bendera mak….!” Dengan polos Udin menjelaskan ke emaknya.

Kamini terdiam, kaku bagai bongkahan batu yang mengeras. Hati Kamini hancur. Darahnya mendidih seketika. Melihat tingkah polah anaknya yang menyayat-nyayat hatinya. Ia memeluk Udin. Menangis hebat. Merasakan iba yang dasyat akan nasib yang Udin terima. Merasakan naluri keibuannya memberontak kuat ketika ia belum bisa membuat bahagia anaknya.
***



Pagi ini Kamini bangun lebih pagi. Jauh lebih pagi dari bangunnya ayam pejantan yang biasa berkokok. Semuanya dilakukan agar Ia dapat berburu rupiah yang lebih banyak lagi, dan lagi. Menyapu daun cengkeh di alas mbah Karso menjadikan waktunya lebih banyak dihabiskan diluar rumah. Menjualnya ke tangan penyuling minyak di dekat kantor kelurahan.


 Berlanjut dengan caping di kepalanya, ia kembali berdiri di antara barisan para nelayan pemburu ikan. Meskipun hampir telat, ia masih mendapatkan tempat. Dadanya kembali berdesir mengingat laut dan keganasannya pada hidupnya.


 Laut yang telah merenggut jasad suaminya. Laut yang sanggup mengejawantahkan kecintaan pada anak semata wayangnya. Ya, demi Udin apapun akan ia lakukan. Tangannya bukan kapalan lagi, tetapi lapisan kulitnya mulai memerah, terkelupas karena kerasnya tali yang beradu oleh tarikan jala yang terhempas oleh ombak.


Kamini berharap, dari tangannya ia segera bisa membelikan sepatu baru buat Udin. Berangkat pagi, pulang siang, lalu berangkat lagi sampai malam. Kamini hanya mengerti jikabekerja adalah pengabdian pada Gusti Agung. Menjalankan titah tanpa sempat berfikir untuk menghancurkan yang lain demi kejayaan diri sendiri atau keluarganya. 


Seperti yang telah mahfum terjadi di negeri tercinta. Seperti yang telah banyak di contohkan oleh pejabat, petinggi negeri ini. Kamini mengerti bergelut dengan tanpa harus menyikut. Kamini tidak seperti kebanyakan mereka yang sering melarikan masalah dengan diam. Tetapi tak di nanya diam-diam malah menebalkan muka.



 Banyak orang yang menganggap semuanya baik-baik saja. Ibarat kata, mereka terlalu sering bercermin kepada diri sendiri. Melihat diri sendiri aman-aman saja. Tetapi Kamini tidak demikian adanya. Sama seperti arti dari nama yang ia sandang, ia tetap menjadi wanita penuh kasih sayang untuk keluarga.  Untuk Udin anak semata wayangnya.



Note:

Jedhing: Kamar mandi
Alas : Hutan
Langgar: Masjid kecil tempat shalat
Kendi : Tempat air bercerat ( dibuat dari tanah)


Ani Ramadhanie-Newterritories
Hening. 19 Agustus 2011-01.44 PM

Selasa, 13 Desember 2011

Saya Ngefans Kepadamu


1323370835315596551
gambar:galleryprojecthk.com



Sudah saya yakinkan  semenjak awal.  Perasaan saya tidak akan pernah berubah kepadamu. Semenjak  saya berani mengenalmu. Mengenal namamu. Nama panggilanmu. Di mana rumahmu. Mencatat nomor hapemu.

Memang saya  yang berani menyapamu terlebih dahulu. Ya, memang saya yang memulainya. Menambahkan kamu sebagai teman saya di facebook.  Mengirimkan inboxucapan terimakasih untuk pertemanan ini. Dan seharusnya itu tidak perlu saya lakukan. Tapi saya memang sengaja melakukannya padamu.

Saya lebih aktif menyapamu. Menyukai statusmu. Membalas komentarmu. Mencuri perhatianmu. Mengirimkan foto-foto pribadi  saya ke inbox akunmu. Dan pelan-pelan kamu termakan umpan. Di hari kemudian, kamu yang justeru lebih aktif menyapa.

Saya utarakan perasaan saya kepadamu. Saya sangat senang membaca setiap goresan kata-katamu, di novel keduamu. Saya mengingatkan kamu untuk kembali ke masa itu. Ketika saya ikut antri bersama  ratusan barisan gadis-gadis ABG untuk  mendapatkan tanda tanganmu. Terik matahari nggak jadi masalah buat saya. Karena saya memang akan melakukan apa saja untuk dapat tanda tanganmu. Kemudian kamu akan menulis nama saya di lembar pertama halaman novel keduamu.  Disertai tanda tangamu.


Berlanjut pada minggu ke empat perkenalan saya dan kamu. Jam satu  dini hari  saya menerima inbox darimu. Saya kemudian membalasnya. Kamu bahagia. Kamu utarakan perasaanmu. Dan saya juga bahagia. Saya utarakan perasaan saya.Saya nggak pernah janji apapun kepadamu.  Tentang apapun.  Ya, saya memang nggak pernah muluk-muluk kepadamu.


Hari terus berganti. Kembali malam berburu pagi.  Kemudian hitungan bulan menggenapi. Saya semakin dekat denganmu. Begitu juga kamu. Saya mulai banyak tahu tentangmu. Begitu juga kamu semakin banyak tahu tentang saya.  Saya mulai berani curhat padamu. Begitu juga kamu. Bahkan saya rasa, kamu lebih aktif untuk mengutarakan perasaanmu. Dan saya hanya menjadi pendengar terbaik untukmu.


Hari kemudian, untuk pertama kalinya saya berani memencet nomor itu. Naik turun mencari namamu. Seakan jari-jemari saya  berhenti bergetar untuk mencari namamu.  Sudah beberapa lama, nyatanya nggak ketemu juga. Sengaja saya merubah namamu menjadi nama seorang wanita. Dan saya rasa kamu tidak perlu tahu apa alasannya.



Saya mulai dengan salam. Kemudian kamu menjawab salam. Saya hanya bisa berdehem saja. Menyengajakan tenggorokan menjadi kerontang. Dan kamu juga kebingungan. Saya canggung. Dan kamu sungkan.  Sesaat kemudian sebelum saya menutup sambungan telfon, terdengar suaramu dengan jelas. Kamu menyebut nama saya. Kamu utarakan perasaan yang kamu pendam. Saya bahagia mendengarnya.


Kemudian mendadak hape saya kehabisan pulsa. Kamu mengirim inbox lagi ke facebook  saya. Melanjutkan perbincangan yang terputus jaringan. Kamu bilang kamu bahagia karena saya perhatian. Dan saya juga bahagia mendengarkan.


Saya memang perhatian. Saya memang romantis. Dan saya hanya ingin bahagia.  Dan ini adalah cara saya untuk mendapatkan kebahagiaan.  Saya kesepian. Dan ternyata kamu juga kesepian. Saya hanya ngefans kepadamu. Tapi saya nggak  tahu bagaimana hatimu?  Perasaan saya nggak   akan pernah berubah kepadamu. Untuk malam yang telah  lalu. Malam ini. Dan malam-malam berikutnya. Bahwa saya  ngefans kepadamu. Tidak untuk wanita yang tidur di sebelahmu.


Ani Ramadhanie
Hening-9 Desember 2011

Senin, 12 Desember 2011

Juminten Laela


Juminten Laela.  Parasnya jelita. Kulitnya berbeda.  Perawakannya nyaris sempurna. Juminten Laela tak serupa anak dara lainnya. Juminten Laela. Rumahnya, bersebelah dengan musala. Kelahirannya, dianggap sebagai   malapetaka.  Juminten Laela. Bukan terlahir dari seorang janda.  Tangisnya memekik di kala subuh belum tiba. Mengejutkan sanak saudara. Juga berbagai pasang mata.


Di kampung Bundaran, Juminten dianggap pembawa kesengsaraan. Merusak martabat yang telah lama dirawat. Dilaknat oleh generasi pembawa riwayat.


Muryatin, tak pernah mengenakan  baju pengantin.  Tak ada pernyataan sebagai pengganti ketentuan ikatan.  Ibu-ibu dan perawan, tak sempat mengantar rantangan.  Tak ada  jenang ketan,  sebagai  rembug lamaran. Upacara peningsetan sebagai tanda hari baik pernikahan, terkesan diabaikan. Itupun tanpa perencanaan.


Tak ada janur kuning. Apalagi  dua janjang cengkir gading.  Begitu pula wasiat Kademin, bapak Muryatin. Upacara  siraman adalah lambang kesucian. Ditangguhkan, pada batas angan.  Air dari merang,  dibakar  sebagai pengganti sampo di dalam jembangan. Sebatas persiapan, tanpa pungkasan. Selembar jarik lurik  warisan dari mbah Carik,  itupun  tak sempat dilirik.  Di malam midodareni, sepasang kendi  tak lagi berisi  air suci.  Sejodoh  kembarmayang,  tak lagi berlanjut adat balangan. Pelataran, tak berubah menjadi pelaminan. Dekorasi hanya mengudang simpati.


Beberapa perempuan beradu pandangan.  Berkerumun seperti serangga berbulu, berebut mencari madu.  Ayam-ayam sabungan berlarian seperti datangnya isyarat kematian.  Di pagi buta,  tak seperti  datangnya  hari biasa. Jerit Muryatin memecah relung batin. Membuat siapa saja terperanjat terjaga.


Muryatin, anak Kademin. Perutnya membesar dikala terbangun dari mimpi, hendak ke kamar mandi. Sakitnya  luar biasa, seketika mendera. Muryatin, anak Kademin. Semakin meraung. Sekonyong-konyong membuat Kademin bingung. Mengalahkan riuhnya besan, begitu pula  senandung azan.


Halaman itu sudah cukup sebagai ungkapan kedukaan. Kembang cempaka tak lagi harum baunya.  Apa hendak dikata, segala terjadi tak seperti biasanya.  Membayangkan di kala Jainem masih ada.  Seorang perempuan, berusia empat puluhan. Tak pernah sekalipun mengenakan pakaian mewah. Berbandar hidup mengolah  basah tanah. Tak pernah sekalipun ia berfikir jikalau sawah adalah musibah. Seorang perempuan berusia empat puluhan.  Tak pernah merasakan enaknya jadi karyawan. Paling banter menjadi buruh harian. Juga mingguan. Tetapi ia tak mudah berubah pendirian.


Jainem selalu berfikir kalem. Terbiasa bangun pagi. Terkadang juga dini hari. Menyandarkan bakti menjumpai  Sang Gusti.  Lebih pagi dari  mentari  yang masih enggan menampakkan diri. Lekas-lekas kemudian mandi. Menyiapkan kopi. Lalu menanak nasi.  Tetapi itu dulu. Sebelum ia berlalu.  Sebelum anaknya perawan. Sebelum rambutnya dirayapi uban.


Bukan maksud menyesali. Jikalau sekarang  Kademin merasa sendiri. Jainem yang selalu membuat fikir adem. Sederhana baik budinya.  Selalu memuja doa untuk keluarga.  Nyawanya tak lagi tersemat di raga. Jainem  tak lagi bangun ketika subuh belum tiba. Pun setelah subuh mereda. Meninggalkan duka. Luka yang datang tiba-tiba. Bahwa kematian tak bisa disangka-sangka. Kapan dikira-kira. Di mana ia akan bermuara?



Setelahnya, Kademin tak lagi banyak bicara. Bahkan, sekedar menjelaskan ia seakan sungkan. Mbok Bidun, lebih tahu karena ia yang didaulat menjadi  seorang dukun.  Menjadi saksi, sekiranya telah terlahir bayi yang tak pernah diingini.  Selanjutnya, sanak saudara enggan menyapa.  Anak-anak dara serta para wanita menyerak berita. Menjadikan siapa saja tempat bertanya. Mengulas nestapa pada keluarga yang dianggap membawa bencana.


Waktu berlalu.  Hitungan hari  berganti bulan terlampaui. Lewatnya bilangan tahun bukan berarti ingatan menghilang di fikiran.  Juminten Laela. Masih meninggalkan sesak di dada. Bahkan ketika usianya tak lagi remaja. Kemudian ia diharamkan untuk berumah tangga oleh warga di kampungnya. Seakan Tuhan tak ada lagi di dunia!


Dan ini bukan lagi ketika sekolah menolaknya. Ketika teman sejawatnya dilarang mendekatinya. Ia dianggap bukan manusia. Membiarkannya hanya merasakan belas iba. Tak ada yang berani mengeluarkan akta kelahirannya. Bertanya siapa bapaknya? Itu yang selalu menjadi alasannya.


Juminten Laela pernah diusir dari kampungnya.  Bahkan sempat  hendak dibakar massa. Ketika pak  Jumprit bermimpi jikalau kampungnya akan terserang wabah penyakit. Tak luput, Juminten disangkutkan sebagai pembuat kalut.  Pembawa  fikiran kusut. Penyebab  kampung menjadi carut marut.



Kampung Bundaran masih memegang kuat kesakralan. Mbah Tukijan, masih didaulat sebagai sesepuh yang dituakan. Segala peraturan seakan ditiadakan sebelum mendapat wejangan mbah Tukijan. Kehormatan  diberikan warga Bundaran kepada mbah Tukijan karena kenyangnya pengalaman. Terurut riwayat, jikalau sejarah berdirinya Bundaran adalah berhubungan dengan salah satu kerabat yang di daulat. Keturunan mbah Tukijan sebagai salah satu penjulur riwayat.



Tetapi, terurutnya riwayat belum tentu akan menyamakan lakon pembawa riwayat. Mbah Tukijan pula yang selama ini  menyiarkan tuduhan.  Mengawali sangkaan. Menghimpun dugaan. Tentang datangnya paceklik, beserta keringnya sumur di Bundaran selang beberapa bulan. Juminten Laela kembali menjadi bahan umpatan. Kelahirannya kembali ribut dibisingkan. Itupun setelah dua puluh tahunan terlewatkan. Seakan Juminten adalah kotoran yang diberatkan. Hingga datang suatu pekan. Pada waktu setelah matahari  terbenam. Dalam. Pada suatu ritual selamatan. Dengan tangis yang sesenggukan. Ia mengadukan beban kepada Tuhan.



“Bukankah aku tidak meminta untuk dilahirkan? Dan seandainya aku terlahir dari rahim isteri mereka, atau Ibu mereka, atau saudara perempuan mereka. Apa yang hendak mereka kata. Tuhan?” Juminten Laela, mengulang doa…



Ani Ramdhan
Hening.Awal November.11 -23 November 2011
Newterritories.2.11 am

Sabtu, 10 Desember 2011

Jarak


Kebersamaan di antara kita bukan saja dalam hitungan jemari, kan? Atau lembaran kalender yang memburu hari. Mencukupi bulan. Selanjutnya menggenapi bilangan. Lantas,  menjadikannya  tahun sebagai keterangan himpunan.  Hitungan jemari yang aku genapkan dan aku gandakan pun tak akan cukup untuk menghitungnya. Perjalanan kita  masih panjang, kan?  Dan selanjutnya, kita akan lebih banyak lagi mengingat tentang waktu yang terlintas dalam pertemuan-pertemuan singkat kita.


Coba dech, kita mulai mengingat? Kapan terakhir kali kamu bilang sayang padaku? Atau kapan terakhir kali kita nonton berdua di Bioskop? Oh, iya satu lagi. Kapan terakhir kali kita pergi berdua malam mingguan?


“Ah, kamu terlalu melankolis!”

“Tapi realistis, kan?”

“Iya,iya,iya. Jangan kuatir. Pokoknya, kamu akan tetap di hatiku. Senang?”

“Yeee, akhirannya kok gitu!”

“Nah, apanya lagi?”

“Masa, akhirannya menggantung gitu!”

“Idiiiih, sewot. Hahaha, pokoknya aku cinta kamu. Gak pakai koma, apalagi nambahin titik. Yang lain suruh nge- kost aja, ya yang! Ok?”

“Aku sibuk, yang. Nanti ngobrol lagi ya?”

Glek!

Tut. Tut.tut.



Dua puluh detik berlalu. Gagang telefon itu masih melekat di daun telinga kananku. Sepertinya, baru saja aku mulai menekan tombol namamu. Mendengar nada sambung lagu kesukaaanku.  Menata perasaanku.  Mengambil nafas dalam, mengatur gaya bicaraku.  Menyiapkan topik terhangat untuk dibincangkan.
Tapi semua hanya terlintas, cepat.  Seperti kedipan mata yang mengerjap. Tertutupi oleh bulu-bulu mata yang lebat. Tak ada perdebatan  tentang dialog kerinduan. Tentang datangnya pagimu. Tentang tenggelamnya malammu. Atau, ke mana menghilangnya kepulan-kepulan asap di bibirmu yang berwarna gelap?


“Di biasakan saja ya, yang?”

“Nanti  kita pasti  bertemu, kok!”

Dibiasakan?

Ya, dibiasakan!

Dibiasakan mungkin memang bukanlah sebuah jawaban. Tetapi belajar membiasakan mungkin juga  dapat mengurangi beban.  Tentang kekhawatiran. Keresahan. Keingintahuan.  Kegundahan. Kekecewaan. Atau sekedar pesan yang tak sempat tersampaikan.

Sama saja dengan menangis bukan, yang? Bukankah menangis juga dapat mengurangi beban? Ah, tidak dong yang! Menangis itu tidak perlu dibiasakan. Tapi menangis itu erat  hubungannya dengan Tuhan. Ha, Tuhan? Kok bawa-bawa Tuhan sih?

Coba dech, kamu bisa gak membiasakan diri setiap pagi menangis? Ah, ogah ah. Aneh kamu! Masa membiasakan, kok menangis?
Nah, benar kan apa yang kuutarakan? Menangis itu bahasa yang tidak mengenal aksara, yang!Menangis itu erat hubungannya dengan perasaan. Tidak melulu dengan kesedihan kok, yang!Kadang, juga sebagai bentuk kebahagiaan. Menangis itu adalah rasa tak terwakilkan,yang!


“Oh iya, yang! Aku sibuk. Email dari atasan gedor-gedor terus tuh!”

Glek!
Tut.tut.tut.


Senyumku getir. Dadaku berdesir. Langit malam di purnama ini  gelap terlalu dini. Tidak ada percakapan perihal  sisi batin. Atau sekedar menyusun tanya  agar abjad-abjad  yang tertata di ruanganku tak  terlantar di belantara.  Dan kamu suka begitu!
1320423714733967008
gambar:google.com

Kamar.04011.11.22.30
Newterritories.


Kamis, 08 Desember 2011

Kamu. Kebiasaanmu.


Sudah satu tahun bersamamu.
Aku tahu sekali seperti apa kamu.

Kamu selalu berpakaian rapi. Wangi. Parfum yang melekat di tubuhmu, bahkan lebih wangi dari parfum ditubuhku. Tidak suka mengenakan kaos kalau keluar rumah. Kemeja yang selalu rapi. Celana jeans tak kalah wangi. Mengelompokkan pakaianmu sesuai warna dan jenisnya.


Kamu suka sekali warna hitam. Ya, bukankah warna ini yang telah menyatukan kita? Membuat kita tak lagi ada jeda, bahwa kita satu selera? Sama. Hitam kamu bilang tegas. Hitam kubilang seksi. Haha, kita sering berebut argumen tanpa ujung. Tapi, kita sama-sama suka hitam.


Kamu tidak suka makan pedas. Masih ingat kan, kalau kamu sempat trauma makan soto ayam di warung pak Toha itu? Dan itu salahku. Sengaja kutuangkan sesendok besar sambal di mangkokmu. Kalau kamu memang cinta, pasti apapun akan kamu lakukan untukku? Iya kan? Dan ternyata, itupun kamu lakukan. Setelahnya, dua jam berturut-turut kamu berteman dengan kamar mandi. Semua salahku.


Kamu tidak bisa makan telur. Kulitmu terlalu sensitif. Jerawat batu pasti akan menutup dua lesung pipimu, nanti. Lantas, dokter kulit akan kamu kencani. Kemudian kamu akan cuek padaku. Aku tidak suka. Ikan menjadi makanan favoritmu. Setiap hari tak bisa terlewat tanpa ikan di sebelah nasimu. Sering aku mual di sampingmu. Aku bosan dengan ikan. Aku hidup dan dibesarkan di kota ikan. Bosanku tingkat tinggi. Tapi, aku tetap menemanimu makan.


Kamu suka mandi terlalu lama. Satu jam. Dan aku tidak demikian. Sempat kita saling mengolok dengan kebiasaan mandi ini. Nda, jadi wanita itu yang bersih dong! Masa mandi secepat itu? Ha, kamunya saja yang over hun! Masa cowok mandi selama itu? Aku nieh, setengah jam saja sudah gak betah! Ngapain aja, di kamar mandi? Kemudian kita larut dengan kebiasaan. Mandi pun pernah didebatkan.


Salon. Ini menjadi masalah yang sangat besar, menurutku. Kamu suka sekali ke salon kan? Potong rambut. Facial. Terapi mengencangkan kulit. Pijat refleksi? Well, sampai sekarang kita masih berbeda. Kamu kan cowok? Masa seperti itu sih, hun? Aku saja nieh ya, yang cewek tulen kayak gini, kagak sesering itu nongkrong di salon! Eh, hun…cowok itu terlihat lebih cakep ketika berkeringat main bola loh, daripada Facial di salon? Tuh, lihat David Beckam! Atau itu, tuh Christiano Ronaldo? Cakep kan? Badannya keker. Dadanya bidang. Sehat, lagi! Pas lagi berkeringat kayak gitu, hmm…kujamin seratus persen kagak pakai tawar. Kagak pakai titikapalagi tambahan koma. Pasti aku akan semakin cinta denganmu loh, hun! Ya, mau bagaimana Nda? Ini kan sudah menjadi kebiasaanku? Ya, seperti ini? Dirubah dong, hun? Kamu diam. Lantas aku selalu kalah olehmu.


Dunia kita memang tak sama, hun. Aku yang selalu disibukkan oleh tumpukan buku tebal. Membaca. Tema apa saja. Paling banter, aku berani menulis diary. Itupun hanya beberapa puluh lembar saja.
Dan kamu, kamu berbeda hun! Dunia entertaint di sekelilingmu membuatku tak nyaman. Balap mobil. Konser band ‘japrak’. Aku menyebutnya demikian karena aku memang tak suka musik yang gaduh. Event-eventmu yang selalu berbau botol minuman. Konser besar tanah air. Mengundang artis remaja internasional ternama sedang naik daun itu, yang kurasa kualitas vokalnya tak lebih apik daripada si Jessica ‘bersuara’ ganda  itu. Gaduh! Apalagi itu, tuh hun. Undangan makan malam bersama artis dangdut kawakan itu? Teman akrabmu. Kedekatanmu dengannya sudah seperti kakak adik bukan ? Aku tidak suka hun! Tidak suka. Sungguh! Berisik. Lebay! Norak! Gengsian! Sok di manis-manisin! Tapi, aku tetap selalu disampingmu.



Rokok. Ya, dia seperti kekasihmu yang pertama. Mengalahkan mantan-mantanmu yang dulu. Masih ingat kan, pertama kita kenal dulu, hun? Tiga bungkus sehari? Memang si lidah gak pernah protes kepahitan ya, hun? Sekarang kan sudah berubah, Nda? Cuma satu bungkus sehari. Terkadang sampai setengah bungkus loh, Nda! Itu gara-gara kamu, tahu! Kamu yang berhasil mengubahku, Nda! Bahkan kamu mengalahkan wangsit-wangsit yang telah diberikan oleh Ibuku!



Gadis-gadis SPG. Kita pernah bertengkar hebat ketika itu. Kebiasaanmu kambuh lagi. Kamu selalu terpana oleh gadis-gadis cantik. Itu wajar kok, hun! Pekerjaanmu sering bersanding dengan gadis-gadis cantik yang mempertontonkan kemolekan tubuhnya bukan? Ya, kan kita profesional, Nda! Jangan cemburuanlah! Cepet tua! Pokoknya, sampai mati hanya ada kamu di hatiku!
Kamu ringan menjawab. Aku menangis hebat. Cemburu membabat habis naluriku! Tapi, aku tetap bertahan di sampingmu, hun! Jangan bandingkan aku!


13198503982101393008
google.com
Kamar.29.10.11.08.45
Newterritories. Bersamamu, kadang melelahkan…

Jakarta Bukan Hong Kong


Deru mobil merayap dengan kecepatan rata-rata. Raga kami masih berpagut kaku. Aku duduk sebangku dengan sahabat yang bertaut usia sekitar dua kali umurku, Om Handoko. Lelaki Padang, sosok tangguh yang terkenal sebagai jelajah rantau ada padanya yang selalu bersemangat. Berbincang apa saja. Kabar tanah air selang waktu lima tahun yang sudah ku tinggalkan. Tentang bocah-bocah jalanan yang semakin merayap di jantung kota. Pemerkosaan menimpa gadis-gadis ‘terpilih’ yang terjadi di angkot-angkot malam. Sampai banderol cabai yang harganya melangit, bisa mengalahkan banderol bensin perliternya.

Sementara di sebelah kiri sopir, lelaki bertubuh tambun yang selalu santun, Om Edi Baskoro.Kesibukannya mengajar di salah satu universitas terkemuka negeri ini, tak membuatnya harus memilah diri dalam berkawan. Bercerita apa saja mengenai kondisi politik tanah air. Menceritakan tawar-menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun suatu kabinet koalisi, lebih dikenal dengan nama politik dagang sapi. Haha, aku tertawa setelah mendengarnya. Ternyata bahasanya merakyat sekali ya Om?

“Ada yang lebih merakyat lagi ndhuk. Masih kenal si kancil kan?”
“Ha, apa hubungannya Om?” Tanyaku heran.
“Bagaimana sifatnya?”
“Cerdik dengan segala macam tipu daya?” Sahutku ringan.
“Haha, pinter ndhuk. Politik kita banyak di isi pemain seperti si kancil, yang kamu kenal itu.” Urainya gamblang. Seisi mobil mengiyakan.

Di bagian belakang ada kamu dan Arif, temanmu. Lajang jawa yang mempunyai rupa sepertiartis korea. Kulitnya putih, hidungnya tak kalah dengan perawakan keturunan. Dan sepertinya,tak pantas kalau dia hanya tidur di kost-kost an. Seperti ceritamu, tentangnya kepadaku. Nasib saja yang membuatnya berbeda.
***

“Nda, mau makan di mana?”
“Terserah.” Jawabku dengan senyum simpul.
“Kok terserah sih, Nda mau makan apa?”
“Perutku masih kenyang, kok. Tadi dapet lunch di Pesawat.”
“Resto Padang yuk?”.

Dan kami mengiyakan saja. Berpuluh piring menu makanan disajikan. Lelehan minyak dan santan yang mengental itu membuatku mual. Lima tahun sudah berlalu di hariku tanpa santan, sambal dan tetek bengeknya yang berbau Indonesia banget itu. Paling banter, yang bisa kuuber adalah sambel goreng tempe di Toko Baru, daerah Newterritorries. Dan itupun harus antri, bahkan berebut. Tidak terbayang kan, untuk dapat membuat lidah bergoyang saja harus antri?

“Oh, mungkin lidahnya sudah berubah seperti orang cina ya mbak? Makanan senikmat ini kok di sia-siakan, haha…?” Sopir yang kusewa menyatu dalam bincang kami. Menyantap beberapa sajian dengan lahap. Keringat mengucur dari pelipisnya yang legam. Nampak raut kelelahan dalam rona wajahnya. Pekerja keras.
***

Setelah rampung dengan segala urusan, akhirnya aku berpisah dengan para sahabat. Menghabiskan hari bersama sosok berbeda, menyisakan kesan takzim yang tak dapat terganti oleh apapun. Sosok yang luar biasa.
“Sekarang mau ke mana, Nda?”
“Ancol. Aku ingin pergi ke sana. Bukankah ini tempat yang indah di kotamu?”
“Siap, tuan puteri. Apa sih, yang tidak kulakukan buatmu hehe…”
Aku hanya tersipu melihat mimik wajahmu yang  mendadak lucu. Kutepuk pelan punggungmu yang bidang. Paling tidak, kamu telah mencairkan kelu lidah yang tak dapat berkata dengan mudah. Bahkan, sebongkah karang yang tiba-tiba menyekat di bilik hati kita, tiba-tiba engkau hancurkan dengan senyum berlesung di pipimu.
***


“Pokoknya teh botol sosro!” Aku tidak hanya merengek. Setengah memaksa tak ada lagi jaim-jaim an.
“Eh, tahu gak sudah lima tahun loh, aku tidak merasakan nikmatnya teh ini, hehe…?” Tak terasa kebekuan di antara kami semakin mencair. Seperti cairan teh botol sosro yang tak terasa sudah mengalir melalui kerongkonganku yang kering. Suhu Jakarta panas.
***

“Nda, kenapa tidak memanggil namaku?”
“Eh, ehm…memangnya kenapa?” Mendadak aku tegang.
“Indra Gading Ganika. Masih ingat namaku kan, Nda?”
“I, iya…”
“Nda, kan bisa panggil nama. Atau, panggil nama sayang seperti biasanya.”
“Ehm, hun aku pengen minum es kelapa muda?”
“Hehe, gitu dong Nda. Didengarnya enak kan?. Kami pecah dalam tawa. Tatap mata pun bukan lagi segan.

Siang itu kita sempat berbaur sebentar di konser musik legendaris idolaku, di Ancol. Tanpa kesengajaan. Dan inilah mukjizat Tuhan yang sering kita lupakan. Bahwa, perasaan normal dan sering terjadi dalam ketidak sengajaan sering membuat kita lupa bahwa itu adalah anugerah.
“Panas. Pindah yuk!” Sahutku.
“Jalan ke Mall yuk. Hunting apa saja yang penting ada diskonanannya.” Kembali, kami disatukan dengan tawa yang membahana. Dan hanya kita berdua. Seolah jemari kita menyatu tanpa perekat. Menggenggam dunia tanpa batas jeda.
“Mulai sekarang, dunia milik kita berdua, Nda. Yang lain suruh ngontrak saja. Hahahaha….” Aku tak kuasa menahan tawa oleh tingkah jenakamu.
***
Kotamu macet ya? Panas. Berdebu. Padat. Aku menggerutu dan kamu hanya tersenyum. Indonesia Nda, itulah jawabmu ringan. La Gus Te. Sebuah toko roti besar dengan brandternama dari Italia. Aku menikmati roti panggang bertabur kismis. Segelas orange jussmelengkapi. Dan aku tahu, kamu tidak suka roti. Bilamana saja kamu dapat berubah. Tetapikamu tidak.
Petang kedua di kotamu. Aku berdiri di tepi jembatan gantung yang berkerumun penjaja makanan. Martabak telor sudah ada di genggamanmu. Panas. Tetapi tetap lahap untuk kamu santap. Dan kamu bilang ‘inilah makanan kesukaanmu’. Lagi-lagi kamu bisa membuatku tersenyum dengan tingkah spontanitas itu.
Pluk!
Kertas pembungkus itu ‘terlantar’ di pelataran parkir. Aku protes. Kenapa harus dibuang sembarangan? Haha, gak pa-pa kok Nda. Tuh, tukang sapunya. Ada noh! Jemarimu menunjuk ke arah tukang sapu renta itu. Ku ambil pembungkus martabak itu. Ku lempar sigap ke tempat sampah di arah lima kaki dari posisiku semula. Tuh, kan! Gampang kan? Aku mendadak sewot karena permasalah kecil ini.
“Ini Jakarta, Nda. Kotaku. Sudah tiga puluh tahun aku hidup dan dibesarkan di sini.!Aku mengerti bagaimana menjadi empu di kandang si Tuan?”
Aku diam. Aku memang tak mengenal kotamu…
1319816144707790430
google.com
Kamar. 22.46.28.10.11
Newterritories, Ketika kita mulai menyatu…