Kamis, 08 Desember 2011

Kamu. Kebiasaanmu.


Sudah satu tahun bersamamu.
Aku tahu sekali seperti apa kamu.

Kamu selalu berpakaian rapi. Wangi. Parfum yang melekat di tubuhmu, bahkan lebih wangi dari parfum ditubuhku. Tidak suka mengenakan kaos kalau keluar rumah. Kemeja yang selalu rapi. Celana jeans tak kalah wangi. Mengelompokkan pakaianmu sesuai warna dan jenisnya.


Kamu suka sekali warna hitam. Ya, bukankah warna ini yang telah menyatukan kita? Membuat kita tak lagi ada jeda, bahwa kita satu selera? Sama. Hitam kamu bilang tegas. Hitam kubilang seksi. Haha, kita sering berebut argumen tanpa ujung. Tapi, kita sama-sama suka hitam.


Kamu tidak suka makan pedas. Masih ingat kan, kalau kamu sempat trauma makan soto ayam di warung pak Toha itu? Dan itu salahku. Sengaja kutuangkan sesendok besar sambal di mangkokmu. Kalau kamu memang cinta, pasti apapun akan kamu lakukan untukku? Iya kan? Dan ternyata, itupun kamu lakukan. Setelahnya, dua jam berturut-turut kamu berteman dengan kamar mandi. Semua salahku.


Kamu tidak bisa makan telur. Kulitmu terlalu sensitif. Jerawat batu pasti akan menutup dua lesung pipimu, nanti. Lantas, dokter kulit akan kamu kencani. Kemudian kamu akan cuek padaku. Aku tidak suka. Ikan menjadi makanan favoritmu. Setiap hari tak bisa terlewat tanpa ikan di sebelah nasimu. Sering aku mual di sampingmu. Aku bosan dengan ikan. Aku hidup dan dibesarkan di kota ikan. Bosanku tingkat tinggi. Tapi, aku tetap menemanimu makan.


Kamu suka mandi terlalu lama. Satu jam. Dan aku tidak demikian. Sempat kita saling mengolok dengan kebiasaan mandi ini. Nda, jadi wanita itu yang bersih dong! Masa mandi secepat itu? Ha, kamunya saja yang over hun! Masa cowok mandi selama itu? Aku nieh, setengah jam saja sudah gak betah! Ngapain aja, di kamar mandi? Kemudian kita larut dengan kebiasaan. Mandi pun pernah didebatkan.


Salon. Ini menjadi masalah yang sangat besar, menurutku. Kamu suka sekali ke salon kan? Potong rambut. Facial. Terapi mengencangkan kulit. Pijat refleksi? Well, sampai sekarang kita masih berbeda. Kamu kan cowok? Masa seperti itu sih, hun? Aku saja nieh ya, yang cewek tulen kayak gini, kagak sesering itu nongkrong di salon! Eh, hun…cowok itu terlihat lebih cakep ketika berkeringat main bola loh, daripada Facial di salon? Tuh, lihat David Beckam! Atau itu, tuh Christiano Ronaldo? Cakep kan? Badannya keker. Dadanya bidang. Sehat, lagi! Pas lagi berkeringat kayak gitu, hmm…kujamin seratus persen kagak pakai tawar. Kagak pakai titikapalagi tambahan koma. Pasti aku akan semakin cinta denganmu loh, hun! Ya, mau bagaimana Nda? Ini kan sudah menjadi kebiasaanku? Ya, seperti ini? Dirubah dong, hun? Kamu diam. Lantas aku selalu kalah olehmu.


Dunia kita memang tak sama, hun. Aku yang selalu disibukkan oleh tumpukan buku tebal. Membaca. Tema apa saja. Paling banter, aku berani menulis diary. Itupun hanya beberapa puluh lembar saja.
Dan kamu, kamu berbeda hun! Dunia entertaint di sekelilingmu membuatku tak nyaman. Balap mobil. Konser band ‘japrak’. Aku menyebutnya demikian karena aku memang tak suka musik yang gaduh. Event-eventmu yang selalu berbau botol minuman. Konser besar tanah air. Mengundang artis remaja internasional ternama sedang naik daun itu, yang kurasa kualitas vokalnya tak lebih apik daripada si Jessica ‘bersuara’ ganda  itu. Gaduh! Apalagi itu, tuh hun. Undangan makan malam bersama artis dangdut kawakan itu? Teman akrabmu. Kedekatanmu dengannya sudah seperti kakak adik bukan ? Aku tidak suka hun! Tidak suka. Sungguh! Berisik. Lebay! Norak! Gengsian! Sok di manis-manisin! Tapi, aku tetap selalu disampingmu.



Rokok. Ya, dia seperti kekasihmu yang pertama. Mengalahkan mantan-mantanmu yang dulu. Masih ingat kan, pertama kita kenal dulu, hun? Tiga bungkus sehari? Memang si lidah gak pernah protes kepahitan ya, hun? Sekarang kan sudah berubah, Nda? Cuma satu bungkus sehari. Terkadang sampai setengah bungkus loh, Nda! Itu gara-gara kamu, tahu! Kamu yang berhasil mengubahku, Nda! Bahkan kamu mengalahkan wangsit-wangsit yang telah diberikan oleh Ibuku!



Gadis-gadis SPG. Kita pernah bertengkar hebat ketika itu. Kebiasaanmu kambuh lagi. Kamu selalu terpana oleh gadis-gadis cantik. Itu wajar kok, hun! Pekerjaanmu sering bersanding dengan gadis-gadis cantik yang mempertontonkan kemolekan tubuhnya bukan? Ya, kan kita profesional, Nda! Jangan cemburuanlah! Cepet tua! Pokoknya, sampai mati hanya ada kamu di hatiku!
Kamu ringan menjawab. Aku menangis hebat. Cemburu membabat habis naluriku! Tapi, aku tetap bertahan di sampingmu, hun! Jangan bandingkan aku!


13198503982101393008
google.com
Kamar.29.10.11.08.45
Newterritories. Bersamamu, kadang melelahkan…

Jakarta Bukan Hong Kong


Deru mobil merayap dengan kecepatan rata-rata. Raga kami masih berpagut kaku. Aku duduk sebangku dengan sahabat yang bertaut usia sekitar dua kali umurku, Om Handoko. Lelaki Padang, sosok tangguh yang terkenal sebagai jelajah rantau ada padanya yang selalu bersemangat. Berbincang apa saja. Kabar tanah air selang waktu lima tahun yang sudah ku tinggalkan. Tentang bocah-bocah jalanan yang semakin merayap di jantung kota. Pemerkosaan menimpa gadis-gadis ‘terpilih’ yang terjadi di angkot-angkot malam. Sampai banderol cabai yang harganya melangit, bisa mengalahkan banderol bensin perliternya.

Sementara di sebelah kiri sopir, lelaki bertubuh tambun yang selalu santun, Om Edi Baskoro.Kesibukannya mengajar di salah satu universitas terkemuka negeri ini, tak membuatnya harus memilah diri dalam berkawan. Bercerita apa saja mengenai kondisi politik tanah air. Menceritakan tawar-menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun suatu kabinet koalisi, lebih dikenal dengan nama politik dagang sapi. Haha, aku tertawa setelah mendengarnya. Ternyata bahasanya merakyat sekali ya Om?

“Ada yang lebih merakyat lagi ndhuk. Masih kenal si kancil kan?”
“Ha, apa hubungannya Om?” Tanyaku heran.
“Bagaimana sifatnya?”
“Cerdik dengan segala macam tipu daya?” Sahutku ringan.
“Haha, pinter ndhuk. Politik kita banyak di isi pemain seperti si kancil, yang kamu kenal itu.” Urainya gamblang. Seisi mobil mengiyakan.

Di bagian belakang ada kamu dan Arif, temanmu. Lajang jawa yang mempunyai rupa sepertiartis korea. Kulitnya putih, hidungnya tak kalah dengan perawakan keturunan. Dan sepertinya,tak pantas kalau dia hanya tidur di kost-kost an. Seperti ceritamu, tentangnya kepadaku. Nasib saja yang membuatnya berbeda.
***

“Nda, mau makan di mana?”
“Terserah.” Jawabku dengan senyum simpul.
“Kok terserah sih, Nda mau makan apa?”
“Perutku masih kenyang, kok. Tadi dapet lunch di Pesawat.”
“Resto Padang yuk?”.

Dan kami mengiyakan saja. Berpuluh piring menu makanan disajikan. Lelehan minyak dan santan yang mengental itu membuatku mual. Lima tahun sudah berlalu di hariku tanpa santan, sambal dan tetek bengeknya yang berbau Indonesia banget itu. Paling banter, yang bisa kuuber adalah sambel goreng tempe di Toko Baru, daerah Newterritorries. Dan itupun harus antri, bahkan berebut. Tidak terbayang kan, untuk dapat membuat lidah bergoyang saja harus antri?

“Oh, mungkin lidahnya sudah berubah seperti orang cina ya mbak? Makanan senikmat ini kok di sia-siakan, haha…?” Sopir yang kusewa menyatu dalam bincang kami. Menyantap beberapa sajian dengan lahap. Keringat mengucur dari pelipisnya yang legam. Nampak raut kelelahan dalam rona wajahnya. Pekerja keras.
***

Setelah rampung dengan segala urusan, akhirnya aku berpisah dengan para sahabat. Menghabiskan hari bersama sosok berbeda, menyisakan kesan takzim yang tak dapat terganti oleh apapun. Sosok yang luar biasa.
“Sekarang mau ke mana, Nda?”
“Ancol. Aku ingin pergi ke sana. Bukankah ini tempat yang indah di kotamu?”
“Siap, tuan puteri. Apa sih, yang tidak kulakukan buatmu hehe…”
Aku hanya tersipu melihat mimik wajahmu yang  mendadak lucu. Kutepuk pelan punggungmu yang bidang. Paling tidak, kamu telah mencairkan kelu lidah yang tak dapat berkata dengan mudah. Bahkan, sebongkah karang yang tiba-tiba menyekat di bilik hati kita, tiba-tiba engkau hancurkan dengan senyum berlesung di pipimu.
***


“Pokoknya teh botol sosro!” Aku tidak hanya merengek. Setengah memaksa tak ada lagi jaim-jaim an.
“Eh, tahu gak sudah lima tahun loh, aku tidak merasakan nikmatnya teh ini, hehe…?” Tak terasa kebekuan di antara kami semakin mencair. Seperti cairan teh botol sosro yang tak terasa sudah mengalir melalui kerongkonganku yang kering. Suhu Jakarta panas.
***

“Nda, kenapa tidak memanggil namaku?”
“Eh, ehm…memangnya kenapa?” Mendadak aku tegang.
“Indra Gading Ganika. Masih ingat namaku kan, Nda?”
“I, iya…”
“Nda, kan bisa panggil nama. Atau, panggil nama sayang seperti biasanya.”
“Ehm, hun aku pengen minum es kelapa muda?”
“Hehe, gitu dong Nda. Didengarnya enak kan?. Kami pecah dalam tawa. Tatap mata pun bukan lagi segan.

Siang itu kita sempat berbaur sebentar di konser musik legendaris idolaku, di Ancol. Tanpa kesengajaan. Dan inilah mukjizat Tuhan yang sering kita lupakan. Bahwa, perasaan normal dan sering terjadi dalam ketidak sengajaan sering membuat kita lupa bahwa itu adalah anugerah.
“Panas. Pindah yuk!” Sahutku.
“Jalan ke Mall yuk. Hunting apa saja yang penting ada diskonanannya.” Kembali, kami disatukan dengan tawa yang membahana. Dan hanya kita berdua. Seolah jemari kita menyatu tanpa perekat. Menggenggam dunia tanpa batas jeda.
“Mulai sekarang, dunia milik kita berdua, Nda. Yang lain suruh ngontrak saja. Hahahaha….” Aku tak kuasa menahan tawa oleh tingkah jenakamu.
***
Kotamu macet ya? Panas. Berdebu. Padat. Aku menggerutu dan kamu hanya tersenyum. Indonesia Nda, itulah jawabmu ringan. La Gus Te. Sebuah toko roti besar dengan brandternama dari Italia. Aku menikmati roti panggang bertabur kismis. Segelas orange jussmelengkapi. Dan aku tahu, kamu tidak suka roti. Bilamana saja kamu dapat berubah. Tetapikamu tidak.
Petang kedua di kotamu. Aku berdiri di tepi jembatan gantung yang berkerumun penjaja makanan. Martabak telor sudah ada di genggamanmu. Panas. Tetapi tetap lahap untuk kamu santap. Dan kamu bilang ‘inilah makanan kesukaanmu’. Lagi-lagi kamu bisa membuatku tersenyum dengan tingkah spontanitas itu.
Pluk!
Kertas pembungkus itu ‘terlantar’ di pelataran parkir. Aku protes. Kenapa harus dibuang sembarangan? Haha, gak pa-pa kok Nda. Tuh, tukang sapunya. Ada noh! Jemarimu menunjuk ke arah tukang sapu renta itu. Ku ambil pembungkus martabak itu. Ku lempar sigap ke tempat sampah di arah lima kaki dari posisiku semula. Tuh, kan! Gampang kan? Aku mendadak sewot karena permasalah kecil ini.
“Ini Jakarta, Nda. Kotaku. Sudah tiga puluh tahun aku hidup dan dibesarkan di sini.!Aku mengerti bagaimana menjadi empu di kandang si Tuan?”
Aku diam. Aku memang tak mengenal kotamu…
1319816144707790430
google.com
Kamar. 22.46.28.10.11
Newterritories, Ketika kita mulai menyatu…

Selasa, 25 Oktober 2011

Perjumpaan



  
Semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.  Perasaan takut terus menyelimuti tanpa permisi. Khawatir kalau-kalau akan terbangun kesiangan. Dan semua mimpi akan berakhir.

Beruntung.  Alarm yang sudah ku set pada kedua hape-ku dapat membuat nyawa kembali ke raga. Meski kantuk baru saja mendera.  Bangun tepat  di pagi yang masih terasa dingin. Jam lima teng, aku  sudah selesai mandi.  Berbenah. Jilbab merah yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari terasa sangat pas dengan kondisi hatiku. Berani?

Memeriksa ulang tiket, Paspor, ID Card, Lap top, Kamera, Koper dan semua yang telah kupersiapkan. Jam 6 pagi  dan ini masih terlalu awal untuk sebuah aktivitas. Sekitar 45 menit, Taxi berwarna merah marun  yang kutumpangi membawaku meluncur  ke Bandara Chek Lap Kok yang tak pernah sepi. Pagi yang terasa dingin  dengan rintik hujan mengiringi.  Seakan langit mengerti,  tentang debar yang terasa di hati.

Lima tahun lalu, kenangan itu tiba-tiba muncul. Kedatanganku sebagai komunitas baru di tempat yang dihuni oleh kaki-kaki besi  yang selalu sibuk. Diburu rutinitas tanpa batas. Dan semuanya menuntut laju yang cepat. Tangkas. Giat.
***


Jam tujuh tiga puluh cex in selesai. Masih tersisa dua jam lagi menunggu waktu penerbangan. Aku gelisah. Keringat mulai terasa mengalir pada pelipis yang tertutup oleh jilbab. Telapak tanganku dingin. Dan ini tidak seperti biasanya.

Jam sembilan tiga puluh, Pesawat Cathay Pasific yang kutumpangi berangkat on time. Hai, kenapa perasaanku  tiba-tiba saja berubah? Yakin dengan jalan yang akan kamu tempuh? Hahaha, kamu gak salah kan? Mana komitmen dan janji yang selama ini kamu koarkan? Hatiku mulai berdialog tanpa permisi. Harusnya hari ini aku bahagia. Bukankah ini adalah angan yang selama ini selalu membayang?

Ah, senyumku kecut! Aku yang sedang galau,  berharap akan dapat jatah tempat duduk di bagian dekat jendela. Menatap awan dengan lebih dekat. Dengan harapan  akan menjadi orang yang pertama kali menatap tumpukan atap-atap hunian berwarna cokelat  di   langit-langit Jakarta. Ya, pertama kali. Kemudian, kuharap sketsa wajahmu juga akan hadir  di sana. Menungguku dengan senyum di pipi lesungmu yang selalu kurindu.

Setengah jam lagi, pesawat mendarat. Jatah makan di dalam Pesawat kubiarkan terlewat. Dan aku semakin diburu dengan perasaan was-was yang mengarat.  Apakah benar hari ini aku akan berjumpa dengannya? Setelah selama itu, ada pada siang dan malam selalu kami habiskan pada ujung kerinduan tanpa perjumpaan?

“Tuhan, berilah kekuatan padaku.”
Bandara Soeta. Akhirnya bertemu juga dengan kedua sahabat yang kukenal melalui jejaringan sosial di salah satu komunitas menulis. Mereka berdua sengaja menjemput di kedatanganku. Kami sering saling menyapa,  bertukar fikiran dan sharing tentang apapun.  Akan membuat acara kopdaran kecil-kecilan dengan beberapa kawan yang berada di Jakarta atau kebetulan sedang berada di Jakarta, adalah  bagian dari rencana kecil kami.

“Bagaimana dengan Indonesia,  sangat jauh berbeda kan, haha..?”
Kami larut dalam peluk dan canda. Dua orang sahabat yang kuanggap pula sebagai sesepuh  yang  selalu mempunyai semangat luar biasa.

“Nda, kamu di mana sih?”
“Pakai baju warna apa?” Di ujung telfon kami disatukan kembali dalam sapa.

Deg!!!
Aku semakin gelisah.
Sesaat tatapku menemukannya terlebih dahulu. Wajahnya masih sama. Rambutnya. Pipi lesungnya. Dan tatapan mata yang membuatku selalu terpana.  Waktu yang canggung, membuatku sengaja berpaling. Pura-pura tidak mengetahui keberadaannya.


Tangan kami tidak pernah saling menjulur sekadar basa- basi.
Dadaku berdesir, lirih. Mataku tak sanggup untuk sekedar menatapnya. Atau bahkan memastikan bahwa ini adalah orang yang selama  itu mengisi hari-hariku. Membuatku kembali berani menaruh sedikit mimpi untuk menghitung gemintang di langit yang malamnya tak selalu sepi. Walau aku juga tahu,  kapan aku  diharuskan  berhenti dan selesai menghitung gemintang itu.

Hahaha...cinta itu seperti main judi, tahu! Persiapkan saja hatimu. Menang itu pasti bahagia. Dan kalah pasti juga akan bahagia, walau pasti kamu juga  akan merasakan sakit.  Bahagia yang tertunda, maksyutnya, gitu!!! Tapi setidaknya kamu pernah mempunyai keberanian untuk mencobanya. Sukses!!! Pesan singkat yang masuk ke dalam inbox hape-ku beberapa pekan lalu. Pesan yang membuat adreanalin semakin berpacu.

“Nda....”
Sapaan itu yang telah menemukan tatap mata kita. Membuat debarku semakin tak tentu. Aku hanya bisa tersenyum. Sulit bibir ini sekadar untuk mengucap namamu, atau nama panggilan sayang yang selama  ini ku biasakan untukmu. Aku tertunduk malu. Tersenyum tipis, sekedar simpul. Bersembunyi di belakang punggungmu membuatku nyaman.



Kamar.25.10.22.20.31
Newterritories. Saat aku mulai mengingat dan mengawalinya...

Minggu, 23 Oktober 2011

Tunggu Aku di Jakarta


gambar:mbiru.com
Ini bukan mantra cinta

Yang sengaja kutabur di altar tanpa singgasana
Seperti halnya berkuncup bunga kamboja
Yang tersisa di kering pusara

Malam ini dan seterusnya
Lantas masa itu kini tiba
Menagih rasa yang lama tereja
Walau kadang lelah merenta

Mas, cinta kita seperti lampu kota
Tak pernah beda
Menghitung mimpi sederhana
Tetap berpijak di atas bumi yang sama
Jemari saling meraba percaya
Setia merenda di dada
Doa kita menjadi perantara
Pada jalanan berujung satu muara
Sampai aku lanjut usia

Tunggu aku di Jakarta,
Seperti saat kita pertama jumpa



Ani Ramadhanie
Tsuen Wan-19 Oktober 2011-12.18am

Cinta, Bagaimana Kita Merasa




Kita sering tertawa bersama
Menangispun berdua
Menghabiskan larinya senja
Seperti percakapan yang selalu dimulai dengan tanya

Lantas firasat mengangkasa
Hasrat yang bicara
Kita mencoba merasa

Serupa getaran suara genta
Tertabuh di Pura
Menggema di angkasa

Selanjutnya,
Waktu ikut meraba
Berlarinya usia
Rasanya tak membuat sore kita jingga
Seperti cintamu pada anak-anak kita



Tsuen Wan, 26 September 2011, ketika kau selalu memafkan khilaf

Lelaki di Yeung Uk Road, Membuatku Mendadak Ingin Bercermin


Ada suatu pagi aku bertemu dengannya. Tak sengaja di pertigaan Yeung UK Road daerah New Territories, di dekat lampu merah silang yang ramai penggunanya. Aktifitas yang sangat padat oleh pengguna jalan, membuat dia menarik perhatian dengan sangat cepat. Banyak sekali orang yang sedang berkumpul. Membentuk sebuah lingkaran dengan tatapan mata yang searah. Pandangan beradu tatap yang sama pada seseorang yang sedang melakukan sebuah aktifitas di lantai. 




Penasaran dengan apa yang terjadi, akhirnya aku ikut juga dengan mereka yang telah lebih dulu berada di tempat itu. Di atas sebuah lantai yang biasa dilewati oleh kaki-kaki yang selalu tergesa dan sibuk diburu tuntutan hidup perkotaan, lelaki itu membungkuk. Merapatkan kanvas yang telah diikatkan dengan batang kaca mata sebelah kirinya dengan gerak yang seirama agar hasil kaligrafi yang dia buat bisa maksimal. Telah berjejer beberapa kaligrafi Cina yang telah dia buat sebelumnya. 






Kanvas, tinta gambar, koper tempat alat-alatnya pun berada di dekatnya. Senyumnya selalu mengembang. Terlihat sekali semangatnya ketika itu. Dan mungkin tidak ada yang menarik darinya, jika dia adalah orang yang normal secara fisik. Semua orang sudah pasti bisa melakukan hal tersebut. Namun, yang menarik dari lelaki tersebut adalah dia bisa membuat kaligrafi tersebut tanpa kedua lengan layaknya manusia normal lainnya.




Tidak ada alasan untuk tidak bertahan. Mungkin itu yang menjadi semangat hidupnya. Kaligrafi yang sudah dibuat tersebut dihargai dengan seratus dolar Hong Kong per lembar. Nampak beberapa orang yang dari tadi berada di sekelilingnya menjadi pembeli atas karya yang telah dia hasilkan. Kaligrafi yang hendak dibeli dia gulung menggunakan dagu.


Kemudian dengan cekatan dia mengikatkan seutas tali kecil berwarna emas dan mengunci talinya menggunakan mulut. Sangat cepat seakan semuanyadikerjakan menggunakan tangan secara normal. Puji Tuhan. Tuhan berlaku adil kepada siapa saja, gumamku dalam hati. Naluri wanitaku yang selalu diikuti oleh perasaan gampang terenyuh, mendadak ingin menangis melihatnya. Merasa miris sekali dengan kondisi yang berada di depanku.





Lukisan yang telah terbeli diserahkan kepada pembeli. Uang seratus dolar di masukkan pada kotak segi empat tanpa tutup yang ia letakkan di sebelah kirinya. Dengan menganggukkan kepala, dia berucap xie-xie nie, toce sai, thank you, terimakasih berkali-kali. Senyumnya mengembang. Sumringah. Beberapa orang yang tidak membeli kaligrafi tersebut, tanpa dikomando dari siapapun sengaja memberikan uang sebagai wujud simpati kepadanya. Setiap ada yang memberikan uang, dia selalu berhenti melukis. Menganggukkan kepala beberapa kali dengan ucapa terimakasih. Dan aku masih terbengong saja melihatnya bisa membuat kaligrafi seindah itu dengan anggota fisik yang sudah jelas tidak sempurna.





Tiba-tiba saja datang seorang nenek mendekat. Dia datang dengan membawa bocah kecil berusia sekitar delapan tahun, dan kuduga dia adalah cucu lelakinya. Berbaur dengan beberapa orang yang sedari tadi memperhatikan bagaimana lelaki itu bisa melukis dengan kanvas yang di talikan pada tangkai kaca mata yang dia kenakan. Dia memberi beberapa lembar puluhan dolar ke dalam kotak segi empat tempat uang tersebut berada. Kemudian, dengan mengagetkan dan spontanitas nenek tersebut mengambil kotak segi empat tempat uang yang berada di sebelah lelaki itu. Dengan senyum, bersuara serak-serak basah dia memutar sambil menyodorkan kotak itu ke arah orang yang sedang berkerumun.





Pei jin a, emkoi…goi hou jam a! Beri dia uanglah, sangat kasihan melihatnya.
Ada yang merasa simpati dengan tingkahnya. Ada yang menggerutu memang dia siapanya, kok datang-datang langsung nyelonong saja. Semua dibuat bingung, termasuk diriku yang masih berada di tempat itu. Tetapi dengan agak malu-malu lelaki pelukis tersebut membuka percakapan dengan nenek tua.



“Maaf, tidak usah seperti itu…saya tidak meminta-minta kok.” Di akhiri dengan senyum. Dan berlanjut dengan kaligrafi yang masih menunggu untuk dirampungkan.



Ding….!!!
Betapa terbelalak diriku mendengarnya. Mungkin pendapat orang lain akan berbeda jika mengetahui hal tersebut. Sudah pasti akan senang jika ada orang yang suka rela membantunya mendapatkan uang. Tetapi dengan sangat sopan, dia menolak. Sebuah totalitas dalam berkarya. Tidak ingin diremehkan dengan ketidak normalan fisiknya. Atau tidak ingin dikasihani. Beberapa dugaan tiba-tiba saja berkelana di fikirku tanpa permisi. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.



Segera ku berikan sedikit yang kuikhlaskan sebagai wujud simpati kepadanya sebelum berlalu dan meneruskan hari liburanku. Tubuhnya masih sama, dengan posisi membungkuk. Kepalanya beberapa kali mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih.




Duh, Gusti! Aku berlalu dengan perasaan yang carut marut. Tidak seberapa yang telah kuberikan kepadanya. Tetapi senyumnya begitu sumringah dan nampak sangat bahagia. Semangatnya terlihat luar biasa dan jauh dari rasa putus asa. Mengucap terimakasih berkali-kali yang bisa kuartikan sebagai rasa syukur atas apa yang dia peroleh. Hatiku tiba-tiba saja kecut dibuatnya. Merasa tersindir dengan halus oleh sikap yang telah dia perlihatkan baru saja. 








Di dalam perjalanan menuju tempat janjian bersama teman-temanku, aku memilih berdiri walaupun masih ada beberapa tempat duduk yang kosong. Ku arahkan tatapan mataku pada kaca di dalam kereta. Kuamati bagian tubuhku. Mata menjadi sasaran utama. Karenanya aku bisa melihat indahnya dunia. Tangan kakiku yang sesempurna ini. Aku yang sering di siksa dengan perasaan iri seandainya bisa hidup berdampingan dengan Bapak Ibu, seperti keluarga lengkap lainnya. 






Aku yang sering kali menggerutu kurang cantik. Bertubuh gemuk. Selalu mengeluh dengan beberapa masalah yang datang. Sering ngedumel jika pekerjaan membuatku sering kelelahan dan merasa tersisih karena jauh dari sanak keluarga dan pergaulan. 




Dan ternyata semangat hidup dan rasa syukurku masih belum ada apa-apanya dengan lelaki pelukis kaligrafi tersebut.Pekerjaan yang membuatku masih bertahan sampai sekarang untuk tercapainya sebuah harapan akan sekelumit masa depan. Dan Alhamdulillah, tubuhku masih sesempurna ini. Nikmat sehat yang tiada tara dan tidak pernah terganti dengan segunung hartapun.
1319394942930660856
Tidak ada alasan untuk tidak bertahan/Ani.doc




Thanks Allah...

Hari ini aku bahagia.
Dan sepertinya, terkadang sangat sulit bibir ini untuk mengucapkan perasaan ‘bahagia’ untuk hal yang terkesan ringan dan normal.



Ani Ramadhanie
Kamar.23.10.11.22.00
Newterritories.
Semoga bermanfaat.

Pulang Liburan


Hunting  barang murah...

Liburan hari ini sangat terasa memuaskan.  Pulang sampai rumah jam sembilan malem. Bersihin make-up  yang biasa nempel di pipi tembemku walau hanya seminggu sekali. Mandi. Bahkan anak asuhku selalu bilang kalau dia takut dan merasa risih jika melihat  mataku yang bulat seperti bola pimpong itu selalu berwarna hitam ulah si maskara yang selalu kucinta.  Hehehe...Bertemu dengan sahabatku,  hunting roti kesukaan di La Gus Te,  sarapan yang sangat telat sekitar jam dua siang di McD yang cepat saji, muter ke pasar murah di Jordan buat hunting baju dan apa saja yang bisa diuber. Hehehe..maklum, meskipun dompet isinya masih berwarna merah  (pecahan ratusan), tapi apapun harus dimulai dengan memanage secara ketat jika hendak pulang ke tanah air secepat niat. Bukankah ingin berkumpul dengan keluarga adalah cita-cita yang sudah njubul  tak tertahan di ubun-ubun? Jadi, semua harus dimulai tertata rapi, serapi tumpukan beberapa buku yang tersimpan di rak kayuku.



Hari ini bahagia. 
Thanks God.


Kamar.231011.22.05
Newterritories